METAMORPHOSELF
Another new year is about to come. How’s y’all preparation so far, facing the new ‘beginning’ of your life? Have y’all made some plannings - good ones, offcourse - or you just play ‘just walk and see’? Hmmm… sounds familiar, rite, for those who don’t have passion in running their life. And I certainly hope that you’re not one of them
Well, if last year I was writing about "how to make a new-year resolution", at this upcoming new year, I will write about METAMORPHOSELF.
METAMORPHOSELF is a terminology that I create myself, actually
(should I put TM on it?) It refers to a condition, that we will change into something better. When we see how a itchy-disgusting catepillar turns into a beautiful butterfly, we sometimes mis-see them and assume them as two different creatures. For me, such metamorphosis is a very sophisticated change that, in real world, is very hard to adopt in human life
(unless those who are candidates of "Swan")
So, di METAMORPHOSELF, saya kepingin ngajak temen-temen semua untuk bersama-sama ber-metamorfosis menjadi sesuatu yang baru, yang lebih baik, tapi tetap jadi diri sendiri. Yang tadinya capetang, ngga perlu berubah jadi sok jaim biar dibilang dewasa. Yang tadinya jelek, ngga usah juga lah sibuk operasi pelastik yang malah bikin kita tidak terlihat seperti kita, sampai-sampai, jangankan guru SD jaman baheula, kita ngaca aja, kita kaget karena ngga ngeh kalo itu muka kita!
Karena itu, METAMORPHOSELF hanya bisa terjadi kalau kita udah berhasil ‘mengenal’ diri kita sendiri. Mengenal kekurangan-kekurangan dan kelebihan-kelebihan kita, untuk kemudian kita bisa "meramu"nya jadi sesuatu yang lebih baik. Istilah farmasinya mah, reformulasi. Nah, gimana caranya supaya kita bisa sukses melakukan METAMORPHOSELF?
Kira-kira, yang pertama, kita pilah-pilih yang mana kelebihan kita, dan yang mana kekurangan kita. Tulis aja di kertas biar lebih gampang. Jangan ragu untuk tanya orang tua, teman, sodara, tetangga atau bahkan Pak Erte di tempat kita, untuk bantu memilah-milah. Karena kan, konon, kita tidak bisa menilai diri kita sendiri secara baik.
Setelah dipilah-pilah, lakukan seleksi. Sifat buruk kita yang kira-kira udah kebangetan, misalnya suka malakin anak SMP di perempatan, atau sifat-sifat yang ngga penting-penting amat tapi menghabiskan energi, seperti hobi menghitung jumlah semut berbaris untuk menganalisa bahwa dalam satu kerajaan semut itu ada berapa SSK (satuan setingkat kompi), ya sebaiknya dibuang saja. Karena segala yang kita lakukan itu adalah cerminan dari diri kita sendiri. Kalo kita sering melakukan hal-hal yang jahat, ya maka orang akan melihat diri kita jahat. Kalo kita sering melakukan hal-hal baik, orang akan melihat diri kita orang yang baik. Dan kalo kita sering melakukan hal-hal yg ngga penting, yaaa sori-sori aja, artinya elo emang NGGA PENTING! hehehe…
Nah, ibarat sampah, ada yang bisa dibuang, ada juga yg bisa didaur ulang. Begitu juga sifat kita. Yaaa, bolehlah buruk-buruk dikit, tapi siapa tau bisa dimanfaatkan jadi sesuatu yang baik? Misalnya, hobi malak anak SMP tadi, alangkah baiknya jika disalurkan menjadi "hobi mencari sumbangan untuk korban bencana alam atau panti asuhan". Dengan begitu, hobimu tersalurkan, dan kamu dapet pahala. Atau hobi menghitung semut berbaris, bisa disalurkan menjadi "hobi menjadi akuntan negara yang menghitung aset-aset BUMN untuk melihat kebocoran dana disanasini". halah… jadi susah banget ya? Ya, pokoknya, selama bisa diarahkan menjadi sesuatu yang baik, kenapa ngga?
Nah, kalo yg buruk udah dicoret atau didaur ulang, kali ini kita lihat sifat-sifat baik. Yang sudah sangat baik, ya dijaga supaya tetap cemerlang. Yang baik, ya di-improve supaya jadi lebih baik. Yang standar, ya di-kursus-in aja, supaya keluar sertifikatnya, hehehe. Ya intinya, jangan kelewat puas kalau kamu sudah terkenal sebagai "si cantik yang rajin memberi santunan kepada pengemis di jalan raya". Alangkah indahnya jika kamu lebih dikenal sebagai "si cantik yang bertutur kata lembut dan rajin memberi santunan kepada pengemis di jalan raya kota Bandung, Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia".
Kembali ke teori METAMORPHOSELF, kayanya penjelasan di atas sudah cukup
yah, untuk menggambarkan teori tersebut. Jadi, sebetulnya kita tidak harus menjadi
orang lain jika kita mau berkembang jadi orang yang lebih baik, tidak musti ikut-ikutan orang kok.
Alangkah cantiknya kalau kita bisa tetep jadi diri kita sendiri, dalam
bentuk yang lebih baik.
Emang sulit jadi orang baik. Tapi lebih sulit lagi, jadi orang yang bener-bener mau niat tulus, untuk jadi lebih baik dari yang sebelumnya. Jadi, intinya kembali ke diri kita masing-masing. Cukup puas dengan kondisi sekarang? Jangan dulu lah… Di agama kita kan juga dibilang, orang yang beruntung adalah, orang yang hari ini lebih baik dari kemarin. Kalau hari ini sama dengan hari kemarin, konon itu adalah orang yang merugi. Dan yang lebih buruk dari kemarin, waaahhh, cilaka!
Nanti bukannya METAMORPHOSELF, tapi malah METAMORPHOSUCK!
Happy new year Guys!!!