Archive for December, 2006

Pindah Rumah… Pindah Rumah…

Friday, December 29th, 2006

Sori Prens, sejak 26 Desember 2006, gue pindah rumah nih, ke http://www.miacantik.wordpress.com.

Hadirilah, banjirilah!!!

Mules Berjamaah!

Tuesday, December 26th, 2006

Ini kejadian aktual banget, soalnya baru terjadi setengah jam yang lalu.

Ceritanya saya, Unduk dan Mpiq makan siang jam 2-an tadi. Kita makan di warung chinese food (dibilang warung karena kecil, dibilang chinese food karena jelas-jelas yg jualan bukan orang Tegal!) langganan. Udah bisa masuk kategori langganan belom yah, karena saya udah sekitar 3 kali lah makan disitu. Dan saya seneng kesitu, soalnya selama 3 kali saya kesitu, selalu pesan tumis Genjer, tapi ngga pernah sama dapetnya. Yg pertama tumis genjernya berkuah tapi cawerang (bening/encer-miw), trus yang kedua kali, tumisnya tidak berkuah, nah yg ketiga, tumisnya berkuah, tapi warnanya coklat! Jadi seakan2 saya dapet menu baru terus, hehehe. Yang terpenting, makanannya enak, dan harganya matching sama kantong. Yah, toyib lah buat mulut, dan toyib buat kantong, walaupun kehalalannya belom terjamin, huehehehe…

Selesai makan, ceritanya Mpiq minta dianterin beli baju. Buat bekel gaul ntar malem,’ katanya. Ya udah kita bertiga naek angkot ke Cihampelas. Pikiran saya, paling belinya ya baju-baju gaul, jadi angkot saya minta stop di depan Promenade, karena disitu ada distro clothing gitu. Belom masuk ke pintu distro, eh si Mpiq udah komen lagi, ‘Miw, gue mah mau beli kemeja…, yang resmi-resmi dewasa gituh. Ga bisa ke tempat ABG begini!’. Oalaaahhh, ye maap!!! Secara saya memang lupa, kalo umur saya dan Mpiq terpaut tiga ratus tujuh puluh taun!

Akhirnya kita berjalan ke arah Ciwalk. Udara dingiiinnn… banget, padahal masih jam setengah 3-an. Mungkin karena hujan rintik-rintik, dan menentang arah angin, jadi makin terasa dingin. Saya yang benci dingin mulai merasa tanda-tanda kelainan dari tubuh saya. Perut saya mulai membunyikan genderang perang, berontak berinteraksi dengan cuaca. Dan lama-lama, jadi mules gitu. Duh, gimana nih?

Baru lewat pertigaan (kira-kira depan ujung jalan Plesiran), saya langsung memberi isyarat ‘Timed Out!’. Perut saya kayanya bener-bener ngga bisa diajak kompromi. Waktu saya bilang ke Unduk pingin balik dulu ke warnet buat ke WC, eh tau-tau Unduk juga bilang, ‘kayanya Unduk juga mules deh…’ Halaahhh! Akhirnya saya dan Unduk sepakat pingin balik dulu. Kita pamitan sama Mpiq, rencananya Mpiq dibiarkan belanja aja dulu sepuasnya, supaya kita juga bisa ke WC sepuasnya, trus saya dan Unduk bakal balik lagi ke Ciwalk untuk jemput Mpiq.

Mpiq tanpa keberatan, setuju-setuju aja. Ya udah, saya dan Unduk langsung nyebrang jalan dan jalan ke arah becak-becak mangkal di depan Warung Laos. Eh, belom sempat saya nawar beca, tiba-tiba kedengeran suara teriak, "Miw!!!" Ternyata si Mpiq. Sambil lari-lari dia tanya, "Naek beca ke warnet berapa?". Saya pikir dia dengan baiknya tidak mau merepotkan saya, jadi saya balik tanya, "Heh, emang lu kenapa? Mau pulang sendiri nanti?". Mpiq nyengir, sambil bilang, "Ngga… kayanya gue mules juga!" Oalaaahhh…

Jadi, kalo kira-kira setengah jam yg lalu, ada yg liat 2 becak racing di Jl Sederhana, nah itu kemungkinan besar becak saya dan Mpiq, yang lagi balapan dulu-duluan sampe di warnet, supaya dapet wc yang paling bagus di lantai dasar.

Ayo Maaanggg…. Kebuuuuutttt!!!!!!!!!!

(In case lu ga ngerti, ini adalah) Epilog
Yang menang dari racing ‘the amazing toilet’ barusan dinyatakan tidak ada. Karena saya memilih utk pergi ke WC di lantai 1 daripada kelamaan musti bunuh-bunuhan dulu sama Mpiq utk rebutan WC (dan kemudian terjadi hal-hal yang saya harap ga akan terjadi pada saya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya). Sementara -ternyata- Mpiq, begitu sampe warnet, mulesnya ilang.

Huuu… Cangkeul Deeee!!!

METAMORPHOSELF

Thursday, December 21st, 2006

Another new year is about to come. How’s y’all preparation so far, facing the new ‘beginning’ of your life? Have y’all made some plannings - good ones, offcourse - or you just play ‘just walk and see’? Hmmm… sounds familiar, rite, for those who don’t have passion in running their life. And I certainly hope that you’re not one of them ;)

Well, if last year I was writing about "how to make a new-year resolution", at this upcoming new year, I will write about METAMORPHOSELF.


METAMORPHOSELF
is a terminology that I create myself, actually :D (should I put TM on it?) It refers to a condition, that we will change into something better. When we see how a itchy-disgusting catepillar turns into a beautiful butterfly, we sometimes mis-see them and assume them as two different creatures. For me, such metamorphosis is a very sophisticated change that, in real world, is very hard to adopt in human life :D (unless those who are candidates of "Swan")

So, di METAMORPHOSELF, saya kepingin ngajak temen-temen semua untuk bersama-sama ber-metamorfosis menjadi sesuatu yang baru, yang lebih baik, tapi tetap jadi diri sendiri. Yang tadinya capetang, ngga perlu berubah jadi sok jaim biar dibilang dewasa. Yang tadinya jelek, ngga usah juga lah sibuk operasi pelastik yang malah bikin kita tidak terlihat seperti kita, sampai-sampai, jangankan guru SD jaman baheula, kita ngaca aja, kita kaget karena ngga ngeh kalo itu muka kita!

Karena itu, METAMORPHOSELF hanya bisa terjadi kalau kita udah berhasil ‘mengenal’ diri kita sendiri. Mengenal kekurangan-kekurangan dan kelebihan-kelebihan kita, untuk kemudian kita bisa "meramu"nya jadi sesuatu yang lebih baik. Istilah farmasinya mah, reformulasi. Nah, gimana caranya supaya kita bisa sukses melakukan METAMORPHOSELF?

Kira-kira, yang pertama, kita pilah-pilih yang mana kelebihan kita, dan yang mana kekurangan kita. Tulis aja di kertas biar lebih gampang. Jangan ragu untuk tanya orang tua, teman, sodara, tetangga atau bahkan Pak Erte di tempat kita, untuk bantu memilah-milah. Karena kan, konon, kita tidak bisa menilai diri kita sendiri secara baik.

Setelah dipilah-pilah, lakukan seleksi. Sifat buruk kita yang kira-kira udah kebangetan, misalnya suka malakin anak SMP di perempatan, atau sifat-sifat yang ngga penting-penting amat tapi menghabiskan energi, seperti hobi menghitung jumlah semut berbaris untuk menganalisa bahwa dalam satu kerajaan semut itu ada berapa SSK (satuan setingkat kompi), ya sebaiknya dibuang saja. Karena segala yang kita lakukan itu adalah cerminan dari diri kita sendiri. Kalo kita sering melakukan hal-hal yang jahat, ya maka orang akan melihat diri kita jahat. Kalo kita sering melakukan hal-hal baik, orang akan melihat diri kita orang yang baik. Dan kalo kita sering melakukan hal-hal yg ngga penting, yaaa sori-sori aja, artinya elo emang NGGA PENTING! hehehe…

Nah, ibarat sampah, ada yang bisa dibuang, ada juga yg bisa didaur ulang. Begitu juga sifat kita. Yaaa, bolehlah buruk-buruk dikit, tapi siapa tau bisa dimanfaatkan jadi sesuatu yang baik? Misalnya, hobi malak anak SMP tadi, alangkah baiknya jika disalurkan menjadi "hobi mencari sumbangan untuk korban bencana alam atau panti asuhan". Dengan begitu, hobimu tersalurkan, dan kamu dapet pahala. Atau hobi menghitung semut berbaris, bisa disalurkan menjadi "hobi menjadi akuntan negara yang menghitung aset-aset BUMN untuk melihat kebocoran dana disanasini". halah… jadi susah banget ya? Ya, pokoknya, selama bisa diarahkan menjadi sesuatu yang baik, kenapa ngga?

Nah, kalo yg buruk udah dicoret atau didaur ulang, kali ini kita lihat sifat-sifat baik. Yang sudah sangat baik, ya dijaga supaya tetap cemerlang. Yang baik, ya di-improve supaya jadi lebih baik. Yang standar, ya di-kursus-in aja, supaya keluar sertifikatnya, hehehe. Ya intinya, jangan kelewat puas kalau kamu sudah terkenal sebagai "si cantik yang rajin memberi santunan kepada pengemis di jalan raya". Alangkah indahnya jika kamu lebih dikenal sebagai "si cantik yang bertutur kata lembut dan rajin memberi santunan kepada pengemis di jalan raya kota Bandung, Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia".

Kembali ke teori METAMORPHOSELF, kayanya penjelasan di atas sudah cukup
yah, untuk menggambarkan teori tersebut. Jadi, sebetulnya kita tidak harus menjadi
orang lain jika kita mau berkembang jadi orang yang lebih baik, tidak musti ikut-ikutan orang kok.
Alangkah cantiknya kalau kita bisa tetep jadi diri kita sendiri, dalam
bentuk yang lebih baik.

Emang sulit jadi orang baik. Tapi lebih sulit lagi, jadi orang yang bener-bener mau niat tulus, untuk jadi lebih baik dari yang sebelumnya. Jadi, intinya kembali ke diri kita masing-masing. Cukup puas dengan kondisi sekarang? Jangan dulu lah… Di agama kita kan juga dibilang, orang yang beruntung adalah, orang yang hari ini lebih baik dari kemarin. Kalau hari ini sama dengan hari kemarin, konon itu adalah orang yang merugi. Dan yang lebih buruk dari kemarin, waaahhh, cilaka!

Nanti bukannya METAMORPHOSELF, tapi malah METAMORPHOSUCK!

Happy new year Guys!!!

Bandoeng Story Jilid Doea

Tuesday, December 19th, 2006

Haaiii… Pagi yang indah, cerah, ditemani secangkir kopi anget dan semangkuk bubur ayam dingin (kayanya udah sisa2 tuh di si Mang Buburnya, sebel!), gue siap bercerita lagi tentang pengalaman di Bandung, kali ini yg mau gue share adalah tentang kerjaan. Sapatau aja ada yg bisa take advantages dari cerita gue ini, alhamdulillah…

Seperti yg telah gue ceritain di Jilid Satoe, tepat besoknya begitu gue nongol (senin 11/12/06), gue langsung berkutat dengan layout ruangan. Sambil kebetulan pas hari itu ada orang PLN yang lagi ditanyai2in perihal pemasangan listrik. Jadi, ceritanya, karena nanti gue akan menempati satu lantai gedung dengan minimal 150 komputer, maka perlistrikan tentunya menjadi hal penting, secara gedung ini listriknya masih minimalis, yaitu ada 3 account (meteran) dengan 2 meteran 2200 watt, dan satu 3500 watt. Wacana awalnya adalah gimana caranya naikin listrik utk sekian banyak komputer. Hal menarik yg gue pelajari adalah, ternyata untuk mensimulasikan kebutuhan listrik, gampang banget! Si orang PLN, yaitu Pak Darya, mengasumsikan 1 set komputer membutuhkan 1 ampere (220 volt). Jadi kalo ada 150 komputer, maka untuk komputer sendiri dibutuhin 150 ampere, a.k.a (150×220=) 33.000 watt. Trus ngitung AC, paling gampang-nya 1 PK dianggap setara dengan 1000 watt, sedangkan selama ini gue mengasumsikan 1 PK itu setara 900 watt (kalo liat kebutuhan listrik AC, kan suka macem-macem tuh, ada yg 1 PK berani nulis butuh listrik di bawah 900 watt). Kalo diasumsikan 1000watt, ya keuntungannya adalah lebih terjamin dari sisi ketersediaan listrik, alias ngga mungkin salah perhitungan. Hitung sana hitung sini, akhirnya kita ambil keputusan kalo kita musti pasang listrik setidaknya 38000 watt (komputer 150 biji, AC 2 PK 3 biji, dan ece-ece lainnya kaya kulkas, dll). Untuk menghemat biaya bulanan, disarankan untuk memecah account menjadi lebih dari satu. Lagipula, tempat yang mau dipakai adalah gedung dengan beberapa kios, jadi bisa "dianggap" masing-masing kios yg pasang account, gitu.

Urusan PLN sendiri sampe hari ini gue nge-blog masih belum beres-beres juga, soalnya sempet gonta ganti skenario. Tadinya, karena disini udah ada 3 account, dan yg 2 account bahkan kita pakai sendiri, maka gue berinisiatif untuk membuat skenario tambah daya utk 3 account yang sudah ada, dan 2 account lainnya pasang baru. Cara ini selain menghemat biaya awal, juga bisa menghemat waktu, karena proses untuk tambah daya tidak serumit pasang baru. Jadi, kalo toh baru ada 3 account @ 7700 watt, lumayan bisa untuk running hampir 100 komputer, yang artinya lagi, selama prosessing pasang baru, duit udah ada yg masuk, gitchuuu. Namun apa daya, ternyata pemilik tempat tidak mengijinkan, jadi skenarionya berubah lagi, jadi musti pasang 5 account baru dengan @ 7700 watt, padahal sekenario awal udah dapat angka perhitungannya, dan boz sudah setuju pisan. Sambil gue mau mengurus skenario baru, eh ternyata investor gue baru bilang kalo dia punya sodara orang PLN dll dll. Secara doi sebagai yg punya duit, gue dan boz kan ga mungkin maksain kehendak kita pribadi. Jadi, yah, sampe hari ini masih belom ada putusan, mau ama siapa, biayanya berapa, kapan beresnya. Padahal listrik adalah obyek RAB yg nilainya paling gede, musti dibayar dimuka, dan prosesnya bisa 3 mingguan lebih :((. Halah… capedeee!!!

Urusan yg cukup gede dan urgent adalah sekat gipsum. Jadi, nanti warnet gue akan berada di sayap kanan gedung, sayap kiri untuk game center, dan tengah-tengah rencananya untuk cafe. Dari sekian calon vendor yg sudah diwawancara, akhirnya kita dapet vendor yg ramah, ceria, dan yg terpenting adalah, memberikan harga yang paling rendah dan masuk budget, hehehe. Vendor gipsum ini, Pak Wahyu namanya, ternyata juga seorang aristek. Walhasil, tandeman gue minta tolong macem2, termasuk desain cafe, hehehe. Dan yang menyenangkan adalah, dari Pak Wahyu kita dapet disain meja komputer dan game yang ngga monoton, plus vendor pembuatnya. Jadi dari pak Wahyu dapet one stop shop, gypsum, meja komputer, kursi (ternyata vendor teman pak Wahyu bisa dapet harga murah langsung dari pabrik utk kursi, yippy!!!), dan sofa, dengan harga yg ekonomis tentunya.

Untuk urusan furnitur, gue dan boz sempat survey, pertama ke Mita Mantari, yaitu satu showroom furnitur terbesar di bandung yang ‘konon’ memberikan harga termurah. Tapi, keliatannya MM cuma mau sedia barang2 bagus, jadi semurah2nya MM, teteup aja ga masuk budget. Trus boz menggiring kita ke daerah Salendro. Disana ada sentra furnitur bekas. Refurbished lah istilahnya. Dari sana kita dapet meja kasir 2 biji, eks Danamon, dan kursi 30 biji. Dilalahnya, begitu kita DP, eh ternyata vendor teman pak Wahyu itu nawarin dengan tipe yg sama, barang baru, harganya di bawah harga barang bekas. Halaaahhh… Jadi, kemaren ((19/12/06), saat orang Salendro datang bawa barang, dan menanyakan order berikutnya (kita awalnya bilang butuh sekitar 120 kursi), gue terpaksa musti berkelit, dgn bilang kalo untuk kiriman komputer dari vendor kemungkinan tersendat karena kali ini kita kredit dalam jumlah besar, sehingga prosesnya akan lebih berbelit-belit, dan mungkin komputernya bakal turun dalam jumlah sedikit-sedikit, tidak sekaligus, jadi order kursi berikutnya gue harus tunggu kabar tentang vendor tsb. Eh, ini ngga bohong lho, cuma ngga jujur aja, soalnya gue jadiin alasan masalah dgn vendor komputer sebagai taktik "in case gue ga jadi order lagi ke elo", hehehe.

Untungnya untuk beberapa urusan sudah di handle boz gue, antara lain vendor komputer yg memang sudah langganannya, urusan Bandwidth utk warnet, dan juga -sementara ini- IIX . Tapi kayanya bos masih pingin gue survey utk yg IIX, cari harga terbaik, jadi itu masih peer gue.

Hari ini, rencana gue adalah : menerima desain autocad untuk meja komputer dan game dan sofa dari vendor furnitur, menunggu kabar orang "PLN sodara investor", survey karpet ke pasar baru, nunggu Telkom tarik kabel kesini untuk ke NOC baru, dan kemungkinan, sebisa mungkin, ambil keputusan tentang PLN.

Yah, kira-kira siy segono dulu. Next chapter, mudah2an gue bisa cerita tentang kondisi bisnis yg lagi diserahin ke gue. Don’t worry, it’ll be a long long story to go, hehehe…

Bandoeng Story Jilid Satoe

Thursday, December 14th, 2006

Hai guys!

Sejak hari Minggu kemaren, (10 des 2006), gue udah jadi mukimin di bandung. Heboh juga sih, nekat bawa-bawa dua tas baju, satu kantong sepatu, dan satu tas khusus koleksi parfum2 (wajib eta mah!), dan juga bawa unduk, sembari ga jelas, daku mau ditidurin, eh… dikasih tempat tidur dimana. Sambil rada lieur kerna penyakit yg ga keren, yaitu ingusan, tapi yah sudahlah. Kerna gue sadar betul tipikal si mas bos yg jedar jedor.

Exactly as I thought, malem pertama ngga sempat cari tempat kos.  Akhirnya gue & unduk ngungsi ke satu sactuary, hehehe, sekalian menikmati malam terakhir bersama, halaahhhh (untungnya ga pake sontrek lagu-nya Rhoma Irama, ‘malam ini malam terakhir bagi kita…’). Unduk dengan pasrah gue bajak supaya ga pulang dulu, sampe gue dapet tempat kos. Terpaksa kode "rencana mencret" diterapkan. "Mencret" adalah kode rahasia Unduk dan temen-temennya untuk ijin bolos sehari, hehehe. Malem itu, gue begadang buat nge-gambar lay out warnet & game center, persis kaya anak sekolah, beli penggaris, pensil, serutan, dan milimeter block biar bisa ngegambar pake skala. Unduk ngejaga gue dengan menyembunyikan remote tivi, karena sampe jam 10 malem mata gue terus2an aja natap tivi, sementara lembar milimeter block di hadapan gue masih bersih seperti baru (padahal emang baru!). Walhasil baru jam 11 malem, gue udah ngantuk, kerna kebiasaan gue kalo kerja ya nonton tipi dulu ampe pilemnya abis, trus baru kerja. Namun apa daya yg gue lagi tonton adalah HBO, jadi begitu satu pilem abis, yaaa… pilem yg laen langsung main, hehehe.

Senin subuh ampe jam 7-an, nerusin gambar lagi sambil dibantu unduk. Trus mandi dan bersiap-siap menuju markas si bos, di Antapani. Nunjukkin lay out game center ke si bos, sembari mengirim kode SOS ke Mpiq "May Day, May Day, Gambarin warnetnya dunk!!!", secara Mpiq bisa gambar pake komputer, dan taste interiornya dia bagus. Mpiq nongol jam 1-an, dan langsung bisa nyelesain layout dalam 2 jam. Abis itu baru kita makan, trus gue maksa minta dicariin kosan. Kurilang kuriling, untung nemu juga. Sesuai dengan harapan gue, ga jauh2 dari basecamp gue nanti, di Sederhana. Bos juga langsung mutusin disitu, biar ga cari2 lagi. Malemnya gue belanja2 kebutuhan standar, en nemenin unduk pulang pake travel. Baru deh kerasa sedih, sampe dengan noraknya gue hampir nangis pas unduk udah naik ke mobil, bhuahahaha! Untungnya agak lama mobilnya ga jalan2, jadi masih bisa saling mengelus kepala dan curi2 dikit… hehehe.

Malem pertama di kos, semakin berasa kalo sendirian. Biasanya walopun di rumah cuma bertiga sama si mamah dan babe, tapi ada aja yg gue kerjain. Ato gue bisa main komputer. Dan kalo kangen unduk gue telpon ato ngajak ketemuan. Sekarang udah ga bisa lagi. At least selama bulan desember. Kerna mas boz mau cabut ke bangkok hari minggu (tgl 17 des), tandem-an gue juga katanya mau pulang kampung dulu, dan mba bos dateng tgl 27 des. Alamat gue musti handle semuanya sendiri, se-engga-nya seminggu sampe tandeman gue balik. Padahal di bulan desember ini semuanya mulai kerja, secara si mas bos menjanjikan ke pak investor, januari bisa running.

Pusing!

Bandung selama 5 hari gue disini, bener2 suck! Tiap lewat tengah hari, tiba2 hujan gede yg bikin gue ga bisa keluar gedung buat cari makan. Baju-baju ngga kering, dan gue ogah ngikut sistem cuci kapitalisnya ibu kos gue. 50 ribu sebulan, detergen dari gue, dan cuma satu setel sehari. Mendingan gue cuci sendiri deh! Kalo yg berat-berat kaya Jins, gue laundry aja biar tau beres. Lumayan murah ternyata, 5000 doang utk laundry jins :D. Belom lagi airnya yang superdingin, ampe mas bos sering  tanya ke gue, "gimana miw, udah berhasil mengumpulkan mental buat mandi?". Ooo, tenang bos, ikke kan sudah membekali diri dengan peralatan tempur, yaitu heater colok :D

Ya, ya, kosan gue lumayan kapitalis. Padahal yg punya orang kaya. Suami-istri dokter. Rumah inti-nya pun gede sekali. Mewah, roman style. Gue ambil kamar dgn kamar mandi dalam, 550ribu/bulan. Kamarnya lumayan lah, ga gede2 amat tapi udah ada spring bed single, lemari dan meja belajar. Jadi gue bisa bawa diri doang. Yang bikin kapitalis adalah kalo bawa alat2. Kulkas 35ribu, komputer 50rb, tivi 35rb, VCD/DVD player (my god!) 35ribu, setrikaan (catet!!!) 35ribu, dll dll dll. Walhasil gue musti selalu menyembunyikan heater colok dan setrikaan di dalem tas ransel di dalem lemari :D. Udah gitu, gue kena jam malam. Pernah gue pulang jam 9, tau2 udah digembok. Akhirnya gue usahain pulang jam setengah 9 (ngaruh ga?). Lagian disini, kalo jam 9, udah susah angkot :’(

Another thing yang jadi note buat gue adalah, ketidakpraktisan bandung kalo gue mau kemana2, ngangkot. Secara di Cemara-Sederhana ngga ada mini market semacam Indomaret, Alfa, ato Circle K. Jadi pilihan gue cuma 2, ke Cihampelas, atau Sukajadi (Parijs van Java). Dan 2-2nya rese. Berangkat gampang, pulang pusing. Kesimpulannya, gue jauh lebih suka hidup di Jakarta sebetulnya, walaupun kemana2 musti ngangkot, baik dari cuaca, jam hidup, suasana, dan fasilitas :) (ssst, jangan2 sampe kedengeran mas bos ya!)

Andai disini ada Unduk, pasti semuanya bakal terasa lebih baik buat gue. God, hear my prayer! (and then pass it to my bos, ya… huehehehe!)