Saya Pikir dan Saya Tahu
Hari-hari terakhir di minggu kemarin adalah hari2 yg paling berkesan buat saya. Boleh dibilang, hari Jumat kemarin itu, adalah hari di mana saya punya alasan untuk senyum-senyum sendirian, bahkan walaupun tidak ada yg mengajak saya tersenyum.
Ceritanya, saya dan Unduk diundang ke bandung oleh teman satu gank. Saya pikir, undangan itu terutama ditujukan buat Unduk, karena kebetulan Unduk memang sedang dapat ‘order’ dari beliau. Ternyata, disana saya yang mendapat surprise. Well, sebetulnya bukan surprise-surprise banget sih, tapi saya tidak menyangka kalau saya mengalaminya saat kemarin itu. I got something that -actually- least-expected gitu deh.
Jadi begini, sudah cukup lama antara saya dan teman saya itu ada wacana, di mana saya diminta untuk bergabung dengannya di Bandung. Jujur, saya senang bukan kepalang, soalnya I’ll be learning from the best. Ini sungguhan lho. Saya menyimpan kagum pada sahabat saya ini. Bagaimana tidak, bisnisnya dalam kurang dari 2 tahun berkembang cukup pesat. Belum lagi ketika dia bercerita tentang peluang-peluang yang ditawarkan pihak lain padanya. Dan yang menjadi kesempurnaan atas kekaguman saya adalah, kenyataan bahwa dia pernah rugi 2 milyar dan habis-habisan, tetapi dia tidak menyerah dan mau kembali bangkit, untuk kemudian merintis bisnis kembali dari nol. Kalau mau ditarik statistik, banyak orang Indonesia yang menjadi pengusaha, dan banyak yang kemudian bangkrut total. Tapi berapa banyak pengusaha sejati yang tetap semangat dan mau kembali bangkit dari keterpurukannya, hayo? Jadi terbayang kan, betapa excited-nya saya, begitu tiba-tiba saya ‘ditembak’?
Meski begitu, bukan berarti kemudian saya tertawa terbahak-bahak setiap menitnya setelah keputusan tersebut. Malah, rasanya saya stress, deh. Soalnya saya masih tidak yakin dengan kemampuan saya sendiri. Bukannya apa-apa, kegagalan bisnis kemarin lumayan ‘menohok’ uluhati saya, walau belum membuat saya trauma. Ya ya, saya tahu kemarin bisnis pertama, saya belum berpengalaman. Ibarat kata, teman saya mas Irwin pernah berkata, "pada bisnis pemula, gagal itu biasa. Nah kalo sukses, baru luar biasa!"
Tapi, seperti halnya suatu kegagalan, pasti sempat tercetus di pikiran saya kata-kata "saya pikir saya bisa, ternyata…". Segala keyakinan dan semangat yang saya punya waktu saya memulai bisnis (dan waktu menjalaninya) seperti yang luntur bersama lenyapnya usaha saya. Ya ya, saya tahu, bagaimana pun faktor-faktor kegagalan itu sebetulnya sudah terprediksi oleh saya sendiri. Tapi yang namanya jatuh, hampir selalu ada rasa sakit, kan? Apalagi saya belum di’imunisasi’ sebelumnya.
Karena itu, waktu akhirnya teman saya itu benar-benar ‘melamar’ saya, saya sempat ragu juga. Bisakah saya? Maksudnya, pengalaman saya bisa dibilang hanya secuil. Dan di secuil itupun saya gagal. Saya merasa saya belum punya portofolio yang pantas. Apalagi kelihatannya tanggung jawab yang diberikan pada saya cukup besar.
Saya malah bilang sama teman saya itu, saya sempat menangis meraung-raung waktu pertama kali dia ajak saya bergabung beberapa bulan yg lalu. Saat itu saya pikir dia cuma mau merangkul saya sebagai teman, karena kasihan. Dan saya yang egois ini merasa harga diri saya terlalu tinggi untuk dikasihani. Alih-alih berterima kasih, saya malah menangis sejadi-jadinya, hahahaha. Tapi, kemarin teman saya cukup meyakinkan saya, bahwa dia mengajak saya, ya karena saya. Artinya mungkin memang ada nilai pertemanan, tetapi dia juga melihat kemampuan saya. Dia juga mengatakan, kegagalan saya kemarin adalah investasi saya terhadap diri saya sendiri. Kalau kata Unduk, it’s a price to pay to get my own bussiness-experience. Jadi, mungkin itulah imunisasi saya. Mungkin saya belum benar-benar kebal, tetapi jika next time saya jatuh, rasanya tidak terlalu sakit.
Saya banyak bertanya pada Unduk hari-hari terakhir ini, ‘kok bisa? kok bisa?’, termasuk bahwa saya belum punya portofolio yg bisa meyakinkan orang bahwa saya memang bisa. Tapi Unduk bilang, dia meyakini satu hal, bahwa ada sesuatu yg dia lihat - dan teman saya itu juga lihat - dari saya, yang sepertinya saya sendiri tidak melihatnya. Mungkin - ini pikiran saya - ada potensi saya yang saya sendiri tidak tahu sebesar apa, tapi kelihatannya mereka bisa mengukurnya. Mustinya sih, saya juga bisa melihatnya, dan mengukurnya.
Karena itu, ‘lamaran’ ini bisa berarti pujian, tapi juga ujian. Pujian dalam arti saya dinilai berdasarkan sesuatu yang masih abstrak betul, belum ada bukti hitam di atas putihnya. Dan ujian, karena saya harus bisa membuktikan, bahwa penilaian itu benar, atau bahkan mungkin saja saya ‘beyond expectation’, hehehe.
Jadi, mulai sekarang saya akan belajar menyingkirkan kalimat ’saya pikir saya bisa’ dalam kamus saya. Saya hanya akan berkata, "SAYA TAHU, SAYA BISA!".
Asal jangan tiba-tiba suatu saat saya berkata, "Saya pikir saya tahu…". Ihhh… amit-amit!!!!
November 21st, 2006 at 6:17 am
Selamat ya… kerja sama om Nizar ;). Kayak orang Padang, dalam berusaha jatuh bangun itu soal biasa walaupun jatuh bangunnya udah 10 kali… katanya biasaaaaa dan pede aja lagi =)). Sukses ya…
November 23rd, 2006 at 4:06 am
Nama gw disebut… bayar lisensi! *eh gw lisensinya free yah :(*
November 23rd, 2006 at 11:23 pm
hahaha, kapitalis lu mas!