Papado (lagi-lagi) Penuh!
Iya, bener lagi! Papado lagi-lagi penuh!
Papado (Net) adalah nama satu warnet di bilangan Casablanca. Bukan… bukan saya mau menghianati warnet langganan saya di belakang kompleks kantor WTC itu, bukaann… cuma ngga ada salahnya saya mau coba warnet yg satu ini.
Pertama kali saya kesana Minggu malam kemarin (26/11/06), dan sore ini, waktu saya datangi, lagi-lagi saya disambut senyum manis sang OP sambil berkata, "Penuh…", yang kemudian dan yang selalu kejadian, saya musti berjalan sedikit agak jauh ke warnet langganan saya ini.
Se-istimewa apa sih, Papado, sampai saya merasa penting untuk menulisnya dalam blog? Fenomena yang menarik adalah, karena setiap kali saya ditolak Papado, dan mengungsi ke warnet langganan, ternyata warnet langganan saya… kosong
Paling terisi tiga dari 16 bangku (kecuali sore ini, kira2 50% lah karena tiap sore selalu ramai sama anak SMA). Walaupun belum bisa ditarik statistiknya (karena sampel data statistik minimal 3, kan?), tapi sudah bisa diasumsikan bahwa warnet Papado jauh lebih untung dibanding warnet langganan saya ini. Walaupun dari segi fasilitas komputer kelihatannya sama (LCD 17"), dan dari harga juga sama (kayanya… 5000/jam), tapi kalo dilihat dari keseluruhan aspek, saya bisa mengerti kenapa profil keuntungan kedua warnet ini bisa jauh berbeda.
1. Dari Lokasi
walaupun keduanya sama-sama berlokasi di daerah Sudirman, tapi Papado lebih diuntungkan dengan berada di pinggir jalan utama, sedangkan warnet langganan saya (yg tidak ada namanya ini) lokasinya di jalan kecil. Masing-masing punya keuntungan posisi sih, sebetulnya… karena warnet tak bernama ini langsung dekat pintu belakang kompleks perkantoran. Jadi ngga heran kalau pada jam2 tertentu banyak orang2 kantor yg main disini.
2. Dari Lingkungan
Nah ini dia yang lumayan menentukan jauhnya pendapatan :D. Warnet Papado kebetulan berada di deretan ruko, dengan fasilitas parkir seluas-luasnya ruko itu. Sedangkan warnet tak bernama ini, mepet buanget sama jalan. Paling banter bisa diparkiri motor, itupun musti serong, dan keliatannya ga bisa banyak2 karena bisa menghalangi pintu masuk.
Selain itu, di sisi parkiran Papado, berjejer tenda makanan, mulai dari mie instan, jagung bakar, wedang ronde, somay, soto betawi… halah buanyak lah sumpah! Nah ini dia penarik utamanya, kalo menurut saya. Soalnya tiap kali saya masuk Papado, pasti di depan OP lagi pada ngejogrok orang2 yang makan, sambil nunggu giliran.
3. Dari Penampakan… eh, Penampilan
Bisa dibilang, penampilan di luar sama2 bergengsi. Dua warnet ini dibangun atas modal besar, itu pasti! Tapi warnet Papado catchy banget karena dapat sponsor (kali!) dari XL, sehingga dinding luarnya digambar-gambar oleh XL pake warna oranye khas XL. Selain pastinya dapet duit dari XL, warna oranye dan tulisan-tulisannya juga catchy banget, ngga norak. Sedangkan warnet tak bernama lebih memberi kesan "warnet kantoran". Dinding depannya kaca semua, dan di sepanjang bagian tengah tertutupi stiker ‘embun’. Itu lho, yg bikin kaca terlihat kaya berembun! Dua-duanya bagus, dua-duanya segmented. Yang membedakan adalah tampilan dalam, alias interior.
Warnet tak bernama lebih fokus sama kecepatan koneksi, dan terutama karena ruangannya ‘kecil’ (5 x 5 atau 4 x 5 m2 lah kira-kira), jadi privasi bisa dibilang nihil. Sekat antar komputer pun berkesan ‘basa-basi’, karena layar bisa terintip dari segala penjuru, hehehe. User yang cuma butuh speed, pasti tidak bermasalah dengan hal ini. Sedangkan Papado, dengan memanfaatkan lantai paling bawah dari 2 ruko (bayangin! modalnya boooo!) yang memanjang, lebih memilih posisi ‘naik kereta api’, alias semua komputer menghadap satu arah. Sekatnya pun dibuat lebih nyaman, yah persis sekat yang menempel ke meja gitu deh, tapi cukup melindungi monitor dari lirikan orang-orang yang lewat, maupun yg duduk di belakangnya. Satu lagi kenyamanan yang ditawarkan Papado yang tidak dimiliki oleh warnet langganan saya.
Nah, tinggal faktor kecepatan koneksi yang saya belum bisa nilai. Cuma kalau beda-beda tipis, tetap masih terbilang wajar kenapa Papado lebih sukses dibanding warnet tak bernama langganan saya ini (walaupun warnet langganan saya ini pun juga sukses, buktinya sekarang lagi full!!!)
Jadi… siapa sih yang punya PAPADO ?!? Hayo ngacung!!!
November 28th, 2006 at 8:40 pm
soal parkiran memang itu penting.. bapak saya juga bilang, kalau ga ada parkir orang mikir seribu kali kalau bawa kendaraan, parkir luas apalagi gratis. Terus ditempat aul memang banyak yang ngusul menyediakan makanan minimal makanan kecil
April 8th, 2009 at 4:19 am
Wah…klo papadonet emang enak banget tuh tempatnya, lokasinya, jajanannya, usernya pun enak diliat (cakep2 uii…). Saia dlu teknisi dsana…dulu, ikut comment ya.
Apalagi klo tau brp omzet nya/bulan…karena papado jg akhirnya saia terjun ke usaha warnet…walaupun perbedaannya mencolok 3 warnet (salah 1 nya papado dgn 50 kompi) sedangkan saia cm 5 kompi…hiks…
Kuncinya adalah…ruko nya milik sendiri…, bayangin klo sewa ruko di lokasi itu…begh bisa abis bwt sewa tempat aja penghasilannya…(seperti saia…).
3x saia kluar masuk kerja di tempat itu hanya karena senang kerja di warnet yg di kelola secara profesional. Salut de bwt Ko Vero sama Ko Rudi…semoga tambah sakses ya Bos…