Ideologi, Arogansi, dan Scrub Green Tea
Kira-kira, lebih dari seminggu yang lalu saya diminta seorang sahabat untuk menemaninya ke Bandung untuk satu urusan. Saya sangat menikmati perjalanan ke Bandung kali ini. Mungkin karena perjalanan ini dadakan dan tanpa persiapan. Bisa juga karena kami pergi-pulang naik Oddisey yang amat nyaman dan dapat membuat bumping2 di tol Cipularang - yang pada ‘mobil biasa’ bisa melempar pantat saya minimal sejengkal ke atas jok kursi mobil - praktis tidak terasa. Atau karena saya bertemu dengan seseorang, yang saat mendengarnya bicara, saya merasa seperti melihat diri saya sendiri sekitar enam sampai sepuluh tahun yang lalu. Dan pada saat sekarang di mana saya menyadari bahwa diri dan pola pikir saya saat itu terlalu naif, saya merasa ‘berkewajiban’ untuk mengingatkan dirinya tentang ‘masa depan’. Yah pokoknya begitu deh.
Saya dikenalkan dengan seorang laki-laki muda. Bukan berarti saya sudah tua lho, tapi maksudnya laki-laki ini lebih muda dari saya. Dia adalah adik pacar sahabat saya yang mengajak saya ke Bandung itu. Dan kebetulan, laki-laki ini satu almamater (beda jurusan) dengan saya, kira-kira empat angkatan di bawah saya. Walaupun dia telah lulus S1 hampir dua tahun yang lalu, tapi dia betah sekali ‘nongkrong’ di almamater kami, karena ternyata dia sedang melakukan suatu penelitian atas penemuan yang dia temukan sendiri… atau yah kira-kira seperti itulah.
Saat dia bicara - terutama setelah dia tahu kalau kami satu almamater - saya menangkap jelas satu ideologi antara dia, saya pada enam sampai sepuluh tahun yang lalu, dan juga ribuan orang yang saat ini masih berada di kampus itu, atau juga yang sudah lulus namun cara berpikirnya masih tidak ‘realistis’ (ini menurut saya!). Laki-laki ini almamater gue banget. Mulai dari obrolan ‘kampus’nya yang gemar menggunakan bahasa-bahasa tinggi yang saya sendiri suer tidak mengerti maksudnya apa, bahkan saat itu sepertinya ia merasa perlu bersombong-sombong diri tentang almamaternya - yang notabene almamater saya juga - hanya karena pada saat saya kuliah disana, saya belum mengalami apa yang dia dapatkan sekarang. Sesekali saya hanya menyahutinya dengan kata-kata basi yang ngga penting seperti aduh Say, gue ngga ngerti deh yang begitu2an, jaman gue kuliah dulu masih urdu sih! yang biasanya langsung disambut dengan ketawa ngakak yang lain yang juga hadir disana.
Saya memang sengaja membiarkannya ngecaprak dalam bahasa (dan juga pola berpikir) yang sangat dikenalinya. Enam tahun lebih dia terkungkung di kampus kami, dan sangat wajar kalau itu menjadi bahasa keduanya. Terlebih kaerna saya menyadari kalau saya - mungkin saja - dulu juga seperti itu. Dan mungkin karena dia merasa kami berbicara dalam bahasa yang sama, dialog-dialog semacam itu membuatnya merasa nyaman untuk terus berbicara (terutama) dengan saya, orang yang baru pertama kali ditemuinya. Karena kemudian dia berbicara kalau dia ‘dilamar’ negara lain untuk meneruskan penelitian yang dia lakukan di negara mereka. Which is extremely good, actually. Tapi saya malah menangkap adanya kekecewaan pada sang almamater, karena seakan-akan almamater kami membiarkan dirinya terbajak negara lain, dan tidak memikirkan kemungkinan bahwa penelitian ini bisa saja membawa nama baik bagi almamaternya (dan Indonesia, duh!). Kasarnya, dia dicuekin almamaternya sendiri.
Setelah saya merasa kalau dia cukup nyaman (dan saya juga, pfhiuuhh!!!), barulah saya ‘memperlihatkan tanduk-tanduk saya’. Hal pertama yang saya bahas waktu itu adalah adanya satu kesamaan ‘ideologi’ almamater saya, sejak awal saya menjejakkan kaki disana, sampai hari itu saya bertemu dengannya. Sedihnya, dengan berkembangnya jaman, ternyata ideologi itu tidak ikut berkembang. Malahan, saat ini ideologi tersebut jelas-jelas sudah tidak tepat keberadaan.
Saya katakan padanya (dan pada semua yang kebetulan mendengarkan), cuma satu ‘kelebihan’ yang saya lihat dari almamater kami. Arogansi. Cuma itu. Sejak awal kami masuk, kami disambut dengan spanduk bertuliskan "Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Seluruh Indonesia" dan juga jargon-jargon lain yang tak kalah melenakan. Bertahun-tahun kuliah, kami selalu dicekoki dengan arogansi-arogansi ke-almamater-an kami oleh para pengajar. Seakan-akan hal tersebut adalah ideologi yang harus dipegang teguh, dipercaya dan diejawantahkan dalam kehidupan kami ke selanjutnya.
Efek sampingnya adalah, para mahasiswa atau lulusan baru yang idealis (memegang teguh ideologinya) memiliki ekspekasi berlebihan terhadap almamater. Gue lulusan almamater ini, gue lebih pintar dari lu semua, maka gue harus digaji lebih tinggi dari yang lain, gue hanya pantas menempati posisi-posisi penting, gue harus jadi atasan, gue bisa mengubah dunia, dll dll. Orang ‘luar’ yang menangkap jelas pesan ini kemudian men-cap idealisme-idealisme ngga penting tadi menjadi satu idiom yang cukup terkenal, "Arogansi XXX (almamater saya)".
Saya merasa perlu memberikan adik pacar sahabat saya itu satu sudut pandang baru. Saya ‘melatih’nya untuk berpikir individual. Jangan salah, individualis bukan berarti tidak peduli dengan orang lain. Jangan pula menyalahartikan sebagai egosentris. Saya mengajaknya berpikir tentang diri sendiri. Hanya tentang diri sendiri. Bahwa dia-lah yang bersusah payah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi supaya bisa diterima di almamater kami. Bahwa dia-lah yang keringat, darah dan airmatanya terkuras supaya bisa menyelesaikan kuliah dengan nilai yang ‘baik’. Bahwa dia-lah yang harus menghadapi belasan dosen penguji saat sidang sarjana. Dan bahwa dia-lah yang menemukan apapun yang sedang dia teliti saat ini. Maka apresiasi dari negara lain yang sekarang ia dapatkan, memang ditujukan hanya untuk dirinya. Our goddamned almamater has nothing to do with this. Sekali lagi saya tekankan. ALMAMATER KAMI TIDAK ADA ANDILNYA SAMA SEKALI DENGAN HAL ITU.
Saya tidak menampik bahwa apa yang telah dia (dan juga saya) peroleh selama ini adalah prestasi, termasuk bisa menembus almamater kami, dan untuk itu kami boleh berbangga. Namun saya sangat tidak setuju jika setiap langkahnya selalu dibayang-bayangi, dan akhirnya dikendalikan, oleh imej ‘gajah duduk’ khas almamater saya itu. Fungsi suatu lembaga ilmu adalah memberi ilmu (saya tidak akan menyebutnya lembaga pendidikan karena menurut saya, almamater saya tidak mendidik!), dan itu telah dilakukan oleh almamater kami, memang. Tapi apakah ilmu itu kemudian diserap, dicerna, atau ditolak oleh para mahasiswanya, itu urusan masing-masing. Artinya, si mahasiswa-lah yang akan menentukan, apakah ia akan menjadi pintar, bodoh, cum laude, IPK di di bawah 2, lulus, DO, baik, buruk, dan semuanya, dan semuanya! Prestasi yang didapat oleh teman-teman saya yang ber-IPK sangat bagus, yang kemudian mendapat rejeki bekerja dengan gaji besar atau di tempat yang layak, adalah prestasi teman-teman saya PRIBADI dan bukan almamater saya. Selayaknya ketika para lulusan almamater saya melamar pekerjaan (dan melakukan serangkaian tes penerimaan karyawan), adalah dirinya dan kemampuan pribadi-nya lah yang dinilai, dan bukan selembar kertas dengan latar gambar ‘gajah duduk’ yang tertera besar-besar (yang bahkan jauh lebih besar dari tulisan predikat kelulusan kami).
Dan ini saya alami sendiri, yang notabene membuka mata saya untuk mampu melihat adanya langit di atas langit. Waktu pertama kali saya melamar pekerjaan, saya sengaja hanya melampirkan ijazah kampus kedua saya (saya meneruskan kuliah tingkat lanjutan di universitas ‘peringkat dua’ di mata almamater saya) dan menyimpan baik-baik ijazah almamater saya di rumah. Saat itu alasan saya adalah malu dengan IPK saya yang dibawah batas normal lulusan almamater saya itu. Saat wawancara, saya dibombardir dengan pertanyaan-pertanyaan yang hanya berhubungan dengan bidang ilmu saya dan sama sekali tidak ada pertanyaan tentang IPK saya berapa, berapa lama waktu yang saya habiskan untuk kuliah, dan tetek bengek semacamnya. Setelah saya masuk dan bekerja, teman-teman sejawat dan atasan saya baru tahu kalau saya dari almamater ‘itu’. Tapi toh hal itu sudah tidak penting lagi. Lagipula disana saya bertemu dengan banyak lulusan almamater lain (negeri dan swasta) yang ternyata kemampuannya di atas saya. Sejak itu, jika ada yang bertanya saya dulu kuliah dimana, saya hanya menjawab, "Bandung." dan membiarkan si penanya menebak-nebak sendiri tempatnya. Yang lucu bahkan pernah seorang teman ‘nongkrong’ meminta saya menggantikan posisinya sebagai customer service di sebuah bank swasta, karena ia mengira saya lulusan sekolah tinggi manajemen atau semacamnya. J
Saya jadi makin meyakini bahwa almamater saya memang sama sekali tidak memberikan jaminan bahwa kami memang benar putra-putri terbaik di negeri ini, karena kenyataannya saya banyak menemukan putra-putri yang lebih baik dari yang katanya terbaik (yaitu saya, hehehe) di almamater-almamater lain. Dan saya tidak yakin ini disadari oleh almamater saya dan juga terutama para mahasiswa yang masih ada di sana.
Saya bahkan juga tidak yakin apakah setelah dikeluarkannya hasil peringkat universitas-universitas terbaik di dunia - bahwa almamater saya menduduki peringkat yang lebih rendah dari ‘universitas peringkat dua’ - mampu mengubah ideologi almamater saya menjadi sedikit lebih realistis. Sama tidak yakinnya dengan apakah scrubbing dengan ekstrak green tea yang saya lakukan tiap minggu dapat membuat kulit saya kinclong seperti bintang iklan. Namun toh saya tetap melakukannya J
*) untuk yang masih hobi menggunakan almamater sebagai senjata, wake up dude, dan baca Republika Selasa Kamis, 9 November 2006, halaman 5, berjudul “UI, ITB, UGM dan Undip Diakui Internasional”.
December 1st, 2008 at 8:47 am
I ve been reading along for a while now. I just wanted to drop you a comment to say keep up the good work.
Joan
Tips Beauty