Archive for November, 2006

Papado (lagi-lagi) Penuh!

Tuesday, November 28th, 2006

Iya, bener lagi! Papado lagi-lagi penuh!

Papado (Net) adalah nama satu warnet di bilangan Casablanca. Bukan… bukan saya mau menghianati warnet langganan saya di belakang kompleks kantor WTC itu, bukaann… cuma ngga ada salahnya saya mau coba warnet yg satu ini.

Pertama kali saya kesana Minggu malam kemarin (26/11/06), dan sore ini, waktu saya datangi, lagi-lagi saya disambut senyum manis sang OP sambil berkata, "Penuh…", yang kemudian dan yang selalu kejadian, saya musti berjalan sedikit agak jauh ke warnet langganan saya ini.

Se-istimewa apa sih, Papado, sampai saya merasa penting untuk menulisnya dalam blog? Fenomena yang menarik adalah, karena setiap kali saya ditolak Papado, dan mengungsi ke warnet langganan, ternyata warnet langganan saya… kosong :(

Paling terisi tiga dari 16 bangku (kecuali sore ini, kira2 50% lah karena tiap sore selalu ramai sama anak SMA). Walaupun belum bisa ditarik statistiknya (karena sampel data statistik minimal 3, kan?), tapi sudah bisa diasumsikan bahwa warnet Papado jauh lebih untung dibanding warnet langganan saya ini. Walaupun dari segi fasilitas komputer kelihatannya sama (LCD 17"), dan dari harga juga sama (kayanya… 5000/jam), tapi kalo dilihat dari keseluruhan aspek, saya bisa mengerti kenapa profil keuntungan kedua warnet ini bisa jauh berbeda.

1. Dari Lokasi

walaupun keduanya sama-sama berlokasi di daerah Sudirman, tapi Papado lebih diuntungkan dengan berada di pinggir jalan utama, sedangkan warnet langganan saya (yg tidak ada namanya ini) lokasinya di jalan kecil. Masing-masing punya keuntungan posisi sih, sebetulnya… karena warnet tak bernama ini langsung dekat pintu belakang kompleks perkantoran. Jadi ngga heran kalau pada jam2 tertentu banyak orang2 kantor yg main disini.

2. Dari Lingkungan

Nah ini dia yang lumayan menentukan jauhnya pendapatan :D. Warnet Papado kebetulan berada di deretan ruko, dengan fasilitas parkir seluas-luasnya ruko itu. Sedangkan warnet tak bernama ini, mepet buanget sama jalan. Paling banter bisa diparkiri motor, itupun musti serong, dan keliatannya ga bisa banyak2 karena bisa menghalangi pintu masuk.

Selain itu, di sisi parkiran Papado, berjejer tenda makanan, mulai dari mie instan, jagung bakar, wedang ronde, somay, soto betawi… halah buanyak lah sumpah! Nah ini dia penarik utamanya, kalo menurut saya. Soalnya tiap kali saya masuk Papado, pasti di depan OP lagi pada ngejogrok orang2 yang makan, sambil nunggu giliran.

3. Dari Penampakan… eh, Penampilan

Bisa dibilang, penampilan di luar sama2 bergengsi. Dua warnet ini dibangun atas modal besar, itu pasti! Tapi warnet Papado catchy banget karena dapat sponsor (kali!) dari XL, sehingga dinding luarnya digambar-gambar oleh XL pake warna oranye khas XL. Selain pastinya dapet duit dari XL, warna oranye dan tulisan-tulisannya juga catchy banget, ngga norak. Sedangkan warnet tak bernama lebih memberi kesan "warnet kantoran". Dinding depannya kaca semua, dan di sepanjang bagian tengah tertutupi stiker ‘embun’. Itu lho, yg bikin kaca terlihat kaya berembun! Dua-duanya bagus, dua-duanya segmented. Yang membedakan adalah tampilan dalam, alias interior.

Warnet tak bernama lebih fokus sama kecepatan koneksi, dan terutama karena ruangannya ‘kecil’ (5 x 5 atau 4 x 5 m2 lah kira-kira), jadi privasi bisa dibilang nihil. Sekat antar komputer pun berkesan ‘basa-basi’, karena layar bisa terintip dari segala penjuru, hehehe. User yang cuma butuh speed, pasti tidak bermasalah dengan hal ini. Sedangkan Papado, dengan memanfaatkan lantai paling bawah dari 2 ruko (bayangin! modalnya boooo!) yang memanjang, lebih memilih posisi ‘naik kereta api’, alias semua komputer menghadap satu arah. Sekatnya pun dibuat lebih nyaman, yah persis sekat yang menempel ke meja gitu deh, tapi cukup melindungi monitor dari lirikan orang-orang yang lewat, maupun yg duduk di belakangnya. Satu lagi kenyamanan yang ditawarkan Papado yang tidak dimiliki oleh warnet langganan saya.

Nah, tinggal faktor kecepatan koneksi yang saya belum bisa nilai. Cuma kalau beda-beda tipis, tetap masih terbilang wajar kenapa Papado lebih sukses dibanding warnet tak bernama langganan saya ini (walaupun warnet langganan saya ini pun juga sukses, buktinya sekarang lagi full!!!)

Jadi… siapa sih yang punya PAPADO ?!?   Hayo ngacung!!!

Saya Pikir dan Saya Tahu

Monday, November 20th, 2006

Hari-hari terakhir di minggu kemarin adalah hari2 yg paling berkesan buat saya. Boleh dibilang, hari Jumat kemarin itu, adalah hari di mana saya punya alasan untuk senyum-senyum sendirian, bahkan walaupun tidak ada yg mengajak saya tersenyum.

Ceritanya, saya dan Unduk diundang ke bandung oleh teman satu gank. Saya pikir, undangan itu terutama ditujukan buat Unduk, karena kebetulan Unduk memang sedang dapat ‘order’ dari beliau. Ternyata, disana saya yang mendapat surprise. Well, sebetulnya bukan surprise-surprise banget sih, tapi saya tidak menyangka kalau saya mengalaminya saat kemarin itu. I got something that -actually- least-expected gitu deh.

Jadi begini, sudah cukup lama antara saya dan teman saya itu ada wacana, di mana saya diminta untuk bergabung dengannya di Bandung. Jujur, saya senang bukan kepalang, soalnya I’ll be learning from the best. Ini sungguhan lho. Saya menyimpan kagum pada sahabat saya ini. Bagaimana tidak, bisnisnya dalam kurang dari 2 tahun berkembang cukup pesat. Belum lagi ketika dia bercerita tentang peluang-peluang yang ditawarkan pihak lain padanya. Dan yang menjadi kesempurnaan atas kekaguman saya adalah, kenyataan bahwa dia pernah rugi 2 milyar dan habis-habisan, tetapi dia tidak menyerah dan mau kembali bangkit, untuk kemudian merintis bisnis kembali dari nol. Kalau mau ditarik statistik, banyak orang Indonesia yang menjadi pengusaha, dan banyak yang kemudian bangkrut total. Tapi berapa banyak pengusaha sejati yang tetap semangat dan mau kembali bangkit dari keterpurukannya, hayo? Jadi terbayang kan, betapa excited-nya saya, begitu tiba-tiba saya ‘ditembak’?

Meski begitu, bukan berarti kemudian saya tertawa terbahak-bahak setiap menitnya setelah keputusan tersebut. Malah, rasanya saya stress, deh. Soalnya saya masih tidak yakin dengan kemampuan saya sendiri. Bukannya apa-apa, kegagalan bisnis kemarin lumayan ‘menohok’ uluhati saya, walau belum membuat saya trauma. Ya ya, saya tahu kemarin bisnis pertama, saya belum berpengalaman. Ibarat kata, teman saya mas Irwin pernah berkata, "pada bisnis pemula, gagal itu biasa. Nah kalo sukses, baru luar biasa!" 

Tapi, seperti halnya suatu kegagalan, pasti sempat tercetus di pikiran saya kata-kata "saya pikir saya bisa, ternyata…". Segala keyakinan dan semangat yang saya punya waktu saya memulai bisnis (dan waktu menjalaninya) seperti yang luntur bersama lenyapnya usaha saya. Ya ya, saya tahu, bagaimana pun faktor-faktor kegagalan itu sebetulnya sudah terprediksi oleh saya sendiri. Tapi yang namanya jatuh, hampir selalu ada rasa sakit, kan? Apalagi saya belum di’imunisasi’ sebelumnya.

Karena itu, waktu akhirnya teman saya itu benar-benar ‘melamar’ saya, saya sempat ragu juga. Bisakah saya? Maksudnya, pengalaman saya bisa dibilang hanya secuil. Dan di secuil itupun saya gagal. Saya merasa saya belum punya portofolio yang pantas. Apalagi kelihatannya tanggung jawab yang diberikan pada saya cukup besar.

Saya malah bilang sama teman saya itu, saya sempat menangis meraung-raung waktu pertama kali dia ajak saya bergabung beberapa bulan yg lalu. Saat itu saya pikir dia cuma mau merangkul saya sebagai teman, karena kasihan. Dan saya yang egois ini merasa harga diri saya terlalu tinggi untuk dikasihani. Alih-alih berterima kasih, saya malah menangis sejadi-jadinya, hahahaha. Tapi, kemarin teman saya cukup meyakinkan saya, bahwa dia mengajak saya, ya karena saya. Artinya mungkin memang ada nilai pertemanan, tetapi dia juga melihat kemampuan saya. Dia juga mengatakan, kegagalan saya kemarin adalah investasi saya terhadap diri saya sendiri. Kalau kata Unduk, it’s a price to pay to get my own bussiness-experience. Jadi, mungkin itulah imunisasi saya. Mungkin saya belum benar-benar kebal, tetapi jika next time saya jatuh, rasanya tidak terlalu sakit.

Saya banyak bertanya pada Unduk hari-hari terakhir ini, ‘kok bisa? kok bisa?’, termasuk bahwa saya belum punya portofolio yg bisa meyakinkan orang bahwa saya memang bisa. Tapi Unduk bilang, dia meyakini satu hal, bahwa ada sesuatu yg dia lihat - dan teman saya itu juga lihat - dari saya, yang sepertinya saya sendiri tidak melihatnya. Mungkin - ini pikiran saya - ada potensi saya yang saya sendiri tidak tahu sebesar apa, tapi kelihatannya mereka bisa mengukurnya. Mustinya sih, saya juga bisa melihatnya, dan mengukurnya.

Karena itu, ‘lamaran’ ini bisa berarti pujian, tapi juga ujian. Pujian dalam arti saya dinilai berdasarkan sesuatu yang masih abstrak betul, belum ada bukti hitam di atas putihnya. Dan ujian, karena saya harus bisa membuktikan, bahwa penilaian itu benar, atau bahkan mungkin saja saya ‘beyond expectation’, hehehe.

Jadi, mulai sekarang saya akan belajar menyingkirkan kalimat ’saya pikir saya bisa’ dalam kamus saya. Saya hanya akan berkata, "SAYA TAHU, SAYA BISA!".

Asal jangan tiba-tiba suatu saat saya berkata, "Saya pikir saya tahu…". Ihhh… amit-amit!!!!

Ideologi, Arogansi, dan Scrub Green Tea

Friday, November 10th, 2006

Kira-kira, lebih dari seminggu yang lalu saya diminta seorang sahabat untuk menemaninya ke Bandung untuk satu urusan. Saya sangat menikmati perjalanan ke Bandung kali ini. Mungkin karena perjalanan ini dadakan dan tanpa persiapan. Bisa juga karena kami pergi-pulang naik Oddisey yang amat nyaman dan dapat membuat bumping2 di tol Cipularang - yang pada ‘mobil biasa’ bisa melempar pantat saya minimal sejengkal ke atas jok kursi mobil - praktis tidak terasa. Atau karena saya bertemu dengan seseorang, yang saat mendengarnya bicara, saya merasa seperti melihat diri saya sendiri sekitar enam sampai sepuluh tahun yang lalu. Dan pada saat sekarang di mana saya menyadari bahwa diri dan pola pikir saya saat itu terlalu naif, saya merasa ‘berkewajiban’ untuk mengingatkan dirinya tentang ‘masa depan’. Yah pokoknya begitu deh.

Saya dikenalkan dengan seorang laki-laki muda. Bukan berarti saya sudah tua lho, tapi maksudnya laki-laki ini lebih muda dari saya. Dia adalah adik pacar sahabat saya yang mengajak saya ke Bandung itu. Dan kebetulan, laki-laki ini satu almamater (beda jurusan) dengan saya, kira-kira empat angkatan di bawah saya. Walaupun dia telah lulus S1 hampir dua tahun yang lalu, tapi dia betah sekali ‘nongkrong’ di almamater kami, karena ternyata dia sedang melakukan suatu penelitian atas penemuan yang dia temukan sendiri… atau yah kira-kira seperti itulah.

Saat dia bicara - terutama setelah dia tahu kalau kami satu almamater - saya menangkap jelas satu ideologi antara dia, saya pada enam sampai sepuluh tahun yang lalu, dan juga ribuan orang yang saat ini masih berada di kampus itu, atau juga yang sudah lulus namun cara berpikirnya masih tidak ‘realistis’ (ini menurut saya!). Laki-laki ini almamater gue banget. Mulai dari obrolan ‘kampus’nya yang gemar menggunakan bahasa-bahasa tinggi yang saya sendiri suer tidak mengerti maksudnya apa, bahkan saat itu sepertinya ia merasa perlu bersombong-sombong diri tentang almamaternya - yang notabene almamater saya juga - hanya karena pada saat saya kuliah disana, saya belum mengalami apa yang dia dapatkan sekarang. Sesekali saya hanya menyahutinya dengan kata-kata basi yang ngga penting seperti aduh Say, gue ngga ngerti deh yang begitu2an, jaman gue kuliah dulu masih urdu sih! yang biasanya langsung disambut dengan ketawa ngakak yang lain yang juga hadir disana.

Saya memang sengaja membiarkannya ngecaprak dalam bahasa (dan juga pola berpikir) yang sangat dikenalinya. Enam tahun lebih dia terkungkung di kampus kami, dan sangat wajar kalau itu menjadi bahasa keduanya. Terlebih kaerna saya menyadari kalau saya - mungkin saja - dulu juga seperti itu. Dan mungkin karena dia merasa kami berbicara dalam bahasa yang sama, dialog-dialog semacam itu membuatnya merasa nyaman untuk terus berbicara (terutama) dengan saya, orang yang baru pertama kali ditemuinya. Karena kemudian dia berbicara kalau dia ‘dilamar’ negara lain untuk meneruskan penelitian yang dia lakukan di negara mereka. Which is extremely good, actually. Tapi saya malah menangkap adanya kekecewaan pada sang almamater, karena seakan-akan almamater kami membiarkan dirinya terbajak negara lain, dan tidak memikirkan kemungkinan bahwa penelitian ini bisa saja membawa nama baik bagi almamaternya (dan Indonesia, duh!). Kasarnya, dia dicuekin almamaternya sendiri.

Setelah saya merasa kalau dia cukup nyaman (dan saya juga, pfhiuuhh!!!), barulah saya ‘memperlihatkan tanduk-tanduk saya’. Hal pertama yang saya bahas waktu itu adalah adanya satu kesamaan ‘ideologi’ almamater saya, sejak awal saya menjejakkan kaki disana, sampai hari itu saya bertemu dengannya. Sedihnya, dengan berkembangnya jaman, ternyata ideologi itu tidak ikut berkembang. Malahan, saat ini ideologi tersebut jelas-jelas sudah tidak tepat keberadaan.

Saya katakan padanya (dan pada semua yang kebetulan mendengarkan), cuma satu ‘kelebihan’ yang saya lihat dari almamater kami. Arogansi. Cuma itu. Sejak awal kami masuk, kami disambut dengan spanduk bertuliskan "Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Seluruh Indonesia" dan juga jargon-jargon lain yang tak kalah melenakan. Bertahun-tahun kuliah, kami selalu dicekoki dengan arogansi-arogansi ke-almamater-an kami oleh para pengajar. Seakan-akan hal tersebut adalah ideologi yang harus dipegang teguh, dipercaya dan diejawantahkan dalam kehidupan kami ke selanjutnya.

Efek sampingnya adalah, para mahasiswa atau lulusan baru yang idealis (memegang teguh ideologinya) memiliki ekspekasi berlebihan terhadap almamater. Gue lulusan almamater ini, gue lebih pintar dari lu semua, maka gue harus digaji lebih tinggi dari yang lain, gue hanya pantas menempati posisi-posisi penting, gue harus jadi atasan, gue bisa mengubah dunia, dll dll. Orang ‘luar’ yang menangkap jelas pesan ini kemudian men-cap idealisme-idealisme ngga penting tadi menjadi satu idiom yang cukup terkenal, "Arogansi XXX (almamater saya)".

Saya merasa perlu memberikan adik pacar sahabat saya itu satu sudut pandang baru. Saya ‘melatih’nya untuk berpikir individual. Jangan salah, individualis bukan berarti tidak peduli dengan orang lain. Jangan pula menyalahartikan sebagai egosentris. Saya mengajaknya berpikir tentang diri sendiri. Hanya tentang diri sendiri. Bahwa dia-lah yang bersusah payah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi supaya bisa diterima di almamater kami. Bahwa dia-lah yang keringat, darah dan airmatanya terkuras supaya bisa menyelesaikan kuliah dengan nilai yang ‘baik’. Bahwa dia-lah yang harus menghadapi belasan dosen penguji saat sidang sarjana. Dan bahwa dia-lah yang menemukan apapun yang sedang dia teliti saat ini. Maka apresiasi dari negara lain yang sekarang ia dapatkan, memang ditujukan hanya untuk dirinya. Our goddamned almamater has nothing to do with this. Sekali lagi saya tekankan. ALMAMATER KAMI TIDAK ADA ANDILNYA SAMA SEKALI DENGAN HAL ITU.

Saya tidak menampik bahwa apa yang telah dia (dan juga saya) peroleh selama ini adalah prestasi, termasuk bisa menembus almamater kami, dan untuk itu kami boleh berbangga. Namun saya sangat tidak setuju jika setiap langkahnya selalu dibayang-bayangi, dan akhirnya dikendalikan, oleh imej ‘gajah duduk’ khas almamater saya itu. Fungsi suatu lembaga ilmu adalah memberi ilmu (saya tidak akan menyebutnya lembaga pendidikan karena menurut saya, almamater saya tidak mendidik!), dan itu telah dilakukan oleh almamater kami, memang. Tapi apakah ilmu itu kemudian diserap, dicerna, atau ditolak oleh para mahasiswanya, itu urusan masing-masing. Artinya, si mahasiswa-lah yang akan menentukan, apakah ia akan menjadi pintar, bodoh, cum laude, IPK di di bawah 2, lulus, DO, baik, buruk, dan semuanya, dan semuanya! Prestasi yang didapat oleh teman-teman saya yang ber-IPK sangat bagus, yang kemudian mendapat rejeki bekerja dengan gaji besar atau di tempat yang layak, adalah prestasi teman-teman saya PRIBADI dan bukan almamater saya. Selayaknya ketika para lulusan almamater saya melamar pekerjaan (dan melakukan serangkaian tes penerimaan karyawan), adalah dirinya dan kemampuan pribadi-nya lah yang dinilai, dan bukan selembar kertas dengan latar gambar ‘gajah duduk’ yang tertera besar-besar (yang bahkan jauh lebih besar dari tulisan predikat kelulusan kami).

Dan ini saya alami sendiri, yang notabene membuka mata saya untuk mampu melihat adanya langit di atas langit. Waktu pertama kali saya melamar pekerjaan, saya sengaja hanya melampirkan ijazah kampus kedua saya (saya meneruskan kuliah tingkat lanjutan di universitas ‘peringkat dua’ di mata almamater saya) dan menyimpan baik-baik ijazah almamater saya di rumah. Saat itu alasan saya adalah malu dengan IPK saya yang dibawah batas normal lulusan almamater saya itu. Saat wawancara, saya dibombardir dengan pertanyaan-pertanyaan yang hanya berhubungan dengan bidang ilmu saya dan sama sekali tidak ada pertanyaan tentang IPK saya berapa, berapa lama waktu yang saya habiskan untuk kuliah, dan tetek bengek semacamnya. Setelah saya masuk dan bekerja, teman-teman sejawat dan atasan saya baru tahu kalau saya dari almamater ‘itu’. Tapi toh hal itu sudah tidak penting lagi. Lagipula disana saya bertemu dengan banyak lulusan almamater lain (negeri dan swasta) yang ternyata kemampuannya di atas saya. Sejak itu, jika ada yang bertanya saya dulu kuliah dimana, saya hanya menjawab, "Bandung." dan membiarkan si penanya menebak-nebak sendiri tempatnya. Yang lucu bahkan pernah seorang teman ‘nongkrong’ meminta saya menggantikan posisinya sebagai customer service di sebuah bank swasta, karena ia mengira saya lulusan sekolah tinggi manajemen atau semacamnya. J

Saya jadi makin meyakini bahwa almamater saya memang sama sekali tidak memberikan jaminan bahwa kami memang benar putra-putri terbaik di negeri ini, karena kenyataannya saya banyak menemukan putra-putri yang lebih baik dari yang katanya terbaik (yaitu saya, hehehe) di almamater-almamater lain. Dan saya tidak yakin ini disadari oleh almamater saya dan juga terutama para mahasiswa yang masih ada di sana.

Saya bahkan juga tidak yakin apakah setelah dikeluarkannya hasil peringkat universitas-universitas terbaik di dunia - bahwa almamater saya menduduki peringkat yang lebih rendah dari ‘universitas peringkat dua’ - mampu mengubah ideologi almamater saya menjadi sedikit lebih realistis. Sama tidak yakinnya dengan apakah scrubbing dengan ekstrak green tea yang saya lakukan tiap minggu dapat membuat kulit saya kinclong seperti bintang iklan. Namun toh saya tetap melakukannya J

*) untuk yang masih hobi menggunakan almamater sebagai senjata, wake up dude, dan baca Republika Selasa Kamis, 9 November 2006, halaman 5, berjudul “UI, ITB, UGM dan Undip Diakui Internasional”.