kesetiaan yang teruji
Saturday, February 25th, 2006Apa yang kamu rasakan, saat orang yang paling kamu cinta, ternyata hanya pembohong belaka? Apa yang kamu rasakan, ketika orang yang paling kamu cinta, ternyata telah membohongi kamu bertahun-tahun lamanya? Apa yang kamu rasakan, ketika kamu bertanya kepada orang yang paling kamu cinta, ternyata tidak mencintaimu sebanyak cintamu padanya? Atau bahkan… mungkin tidak mencintaimu sama sekali?
Jam dinding berhenti berdetak. Waktu berhenti berputar. Jantung berhenti berdegup. Tak ada darah yang mengalir di dalam pembuluh darah, menyampaikan oksigen menuju otak. Otakku buntu, beku. Kaku.
Bagaimana mungkin, setelah semua yang aku lakukan untuknya, dia melakukan ini padaku? Padaku? Dalam tiap detik hidupku selalu aku persembahkan untuk melayaninya, dalam tiap hela napasku selalu yang kuingat hanya dia. Bagaimana bisa? Bagaimana tega?
Dan dalam keheningan yang mematikan ini, dia hanya bisa diam. Kenapa diam? Bicaralah! Bicaralah! Jelaskan padaku, kenapa? Kenapa kau tega? Tapi dia tetap terdiam. Terduduk layu di pinggir tempat tidur, sambil menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangannya. Sesekali mengacak-acak rambutnya yang sudah kacau tak beraturan, tapi tetap saja tak bisa kulihat wajahnya.
Menengadahlah! Tegakkan kepalamu! Aku ingin melihat wajahmu, ingin menatap matamu, ingin aku tanyakan, kenapa kau tega melakukan ini padaku???
Tapi dia tetap diam. Lama-lama aku bisa benar-benar mati dalam keheningan ini. Begitu banyak yang ingin aku tanyakan, begitu banyak penjelasan yang ingin aku dengarkan. Aku tak tahan!!!
"Kita cerai." ucapku, dingin. Kau segera mengangkat wajahmu. Menatapku.
"Kita cerai." ulangku. Masih dingin. Kali ini dia terlihat kebingungan.
"Tapi…" jawabnya, tergagap. "…tapi Anna, kita tak bisa bercerai. Kita TAK BOLEH bercerai!"
"Kenapa?" tanyaku lagi.
"Gereja…" ujarnya, terputus oleh ucapanku.
"Gereja??? Ketika kamu berhubungan dengannya, pernahkah kamu berpikir tentang gereja? Tentang Tuhan? Tentang aku? Tentang Nikita? Tentang…" ah, sudahlah. Sebaiknya tidak kulanjutkan. Tidak saat ini. Dan mungkin tidak nanti-nanti.
Dia kembali terdiam. Kedua telapak tangannya membenamkan wajahnya makin dalam. Apa yang ada di kepalanya? Menyesalkah dia? Atau marahkah?
Hening ini terlalu lama! Aku benar-benar tak tahan lagi berada satu ruangan dengannya.
"Mau kemana?" tanyanya sambil menahan tanganku, ketika aku beranjak dari dudukku. Aku kibaskan pegangannya, dan keluar kamar menuju kamar Nikita. Sebaiknya malam ini aku tidur disana.
*
Hari ini aku tegaaaangggg… sekali! Mustinya selama ini memang tanda-tanda. Persis seperti waktu aku hamil Nikita, belakangan ini aku cuma mau menyantap asinan betawi yang dijual di depan kompleks. Dan waktu kemarin aku coba hitung-hitung, ternyata aku memang sudah telat 3 minggu. Biasanya aku selalu memantau siklus menstruasiku, tapi acara penggalangan dana untuk panti asuhan bayi dan balita sebulan terakhir ini benar-benar menyita konsentrasiku.
Nikita duduk manis di sebelahku. Kali ini dia penurut, tak protes waktu aku minta dia duduk sendiri, tidak dipangku. Ah, dia benar-benar seperti malaikat. Sejak tadi ia menggenggam tanganku, seakan tahu bagaimana cara meredakan keteganganku.
"Nyonya Prabowo!" suara suster yang muncul dari pintu praktek dokter kandungan memanggil namaku. Aku buru-buru bangkit sambil menuntun Nikita.
Dokter membaca ketegangan di raut wajahku, dan sambil tersenyum dia berkata, "Saya tidak mau menahan berita bahagia ini terlalu lama. Ibu positif hamil!"
Haaaa… aku tersenyum lebar, sambil menciumi Nikita yang kebingungan melihatku tersenyum girang. Bayangkan, penantian lima tahun untuk memiliki anak kedua! Lima tahun! Dan anak ini bisa jadi laki-laki, seperti yang selama ini diinginkan Rio. Ahhh… dia pasti senang sekali mendengar berita ini.
Bergegas aku menuju wartel dekat klinik bersalin. Dengan tangan gemetar menahan girang aku segera memencet nomor hp Rio. Berita ini pasti jadi kejutan yang menyenangkan untuknya, apalagi sudah dua hari Rio tak pulang karena dikejar tenggat proyeknya. Tak sabar aku menunggu nada tunggu teleponnya. Cepat angkat, Rio! Cepat angkat hpmu!
"Halo?" terdengar suara wanita di ujung sana. Aku tertegun sejenak. Apa aku salah pencet nomor? Buru-buru aku letakkan gagang telepon, dan kali ini aku tekan ulang tombol-tombol nomor secara perlahan.
"Halo?" suara wanita yang tadi. Aku jadi ragu. Ini mustinya nomor hp Rio. Kalau begitu, wanita ini siapa?
"Halo?" kali ini suara wanita itu terdengar tak sabar. Aku seperti tersadar, dan bertanya, "Halo, ini nomor Bapak Satrio Wibowo?"
"Iya betul." jawab wanita di seberang telepon. "tapi beliau sedang di kamar mandi. Ada yang bisa saya sampaikan?"
"Mbak siapa?" tanyaku lagi, sopan. Mungkin ini rekan kerjanya, atau sekretaris di kantornya, pikirku tak curiga.
"Saya… uhm, saya istrinya." jawabnya agak ragu. Apa??? Bukankah… "Ini siapa?" dia balik bertanya.
"Saya ISTRINYA." jawabku. Siapa wanita ini???
"Ohhh…" terdengar suara wanita tersebut menggumam. Kami sama-sama diam sejenak, sampai Rio mengambil alih hpnya dan berkata, "Anna?" sebelum akhirnya aku banting gagang telepon wartel, dan buru-buru menarik Nikita untuk pulang.
*
Pagi hari rutinitas rumah ini tetap berjalan seperti biasa. Aku bangun jam setengah lima pagi, memasakkan air mandi untuknya, kemudian mengatur baju-celana-dasi yang akan dia kenakan hari ini, membangunkannya setelah air cukup panas, menyiapkan nasi goreng dengan dua telur mata sapi yang digoreng menyambung seperti mata sapi, dengan bagian kuning telur yang setengah matang dan tak pecah, secangkir kopi dan multivitamin yang musti ia minum tiap pagi, memberinya pakaian yg siap dipakai begitu ia selesai mandi, menemaninya sarapan, mengambil sepatunya dari rak sepatu, mengganti kauskakinya dengan kaus kaki yang bersih, dan mengikutinya sampai masuk ke dalam mobil untuk kemudian berangkat ke kantor. Cuma satu rutinitas yang tidak aku lakukan lagi. Bicara padanya sepanjang pagi ini.
Rio sepertinya mencoba untuk meruntuhkan dinding kebisuanku dengan mencoba membelai kepalaku saat mau sarapan, tapi aku berhasil menghindar sehingga tangannya tak menyentuh seujung rambutpun di kepalaku. Aku betul-betul sudah tak sudi dijamahnya. Bahkan aku tak rela dia menghirup napas yang baru aku hembuskan. Sama sekali tak rela!
Rio sudah berangkat kerja, dan Nikita masih tertidur pulas di kamarnya. Aku masuk ke dalam kamarku, duduk di depan meja riasku. Menatap refleksi diriku sendiri di dalam cermin, melihat seorang wanita yang terlalu lelah menahan beban semalam terakhir. Wanita yang merasa terlalu kuat untuk menangis, tapi terlalu lemah untuk berdiri menantangnya dan sekadar bertanya, kenapa.
Aku teringat kata-katanya barusan sebelum ia masuk kedalam mobil…
"Dia bisa mengerti diriku, Anna. Dia mengerti betul pekerjaanku. Dia mengerti impian-impianku…
Anna, kamu memang istriku, tapi kamu terlalu baik. Kamu selalu menuruti semua keinginanku, sampai-sampai aku tak pernah merasa perlu bersusah-susah untuk berpikir sejenak, untuk berdiskusi atau sekadar berdebat denganmu…"
Ha, pendek betul pikirannya! Pengabdian tanpa syarat yang aku berikan selama ini justru menjadi alasannya untuk selingkuh?
Berdiskusi? Berdebat? Sedangkan aku tak pernah menuntutnya untuk tahu bagaimana cara membuat daging menjadi lunak tanpa bantuan panci tekan? Atau mengajaknya berdiskusi tentang bagaimana cara membuat gantungan wajan di dapur agar tampak rapi? Lalu kenapa dia merasa perlu berdebat tentang pekerjaannya denganku?
Ada apa denganku? Apa kekuranganku selama ini?
Aku meraba-raba wajahku. Kerut-kerut di ujung mataku mulai terlihat jelas. Apa karena kerut-kerut ini? Aku belai rambutku yang panjang sepunggung tanpa gaya. Apa karena rambut ini? Atau… atau mungkin karena aku jarang mengganti seprai kami? Atau apakah karena masakanku? Apa karena selama ini aku kurang bisa membuat gulai kepala ikan seenak buatan ibunya? Atau… apa aku kurang cantik? Kurang bisa melayaninya?
Apa dia yang bisa dan aku tak bisa?
Tapi… siapa dia? Sepanjang malam kuhabiskan waktu hanya untuk berpikir. Siapa dia? Seperti apa rupanya? Seperti apa baunya? Seperti apa rambutnya, pakaiannya? Apakah dia lebih muda dariku? Apa dia pandai memasak? Seperti apa masakannya? Seperti apa dirinya di tempat tidur? Apa dia hebat? Apa dia mampu memberinya kepuasan yang mungkin selama ini tidak ia dapatkan dariku?
Apa mungkin selama ini aku kurang memuaskan?
Ahhh… pertanyaan-pertanyaan ini semakin membuatku gila!!! Berani-beraninya Rio selingkuh dengan wanita lain, setelah semua yang aku lakukan untuknya!!! TEGANYA!!!
AAAAAAAAAAAARRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHH!!!!!!
Tuhan, ini terlalu menyakitkan! Sakit! Sakit sekali!!! Bebaskan aku!!! TOLOOOOONGGGGGGGG!!!!!!!!
Sakit… sakit… gelap… hilang…
"Mami… mami…" sayup-sayup suara Nikita terdengar ditelingaku.
"Mi… Mami kenapa? Mami, bangun mami… mami kok berdarah…" suara Nikita memanggil-manggil, kini semakin jelas.
Aku membuka mataku perlahan-lahan. Itu dia malaikatku, berjongkok di lantai, sementara aku disini, masih terduduk di depan meja rias. Tapi… tapi… kenapa dia jongkok disitu?
"Mami… bangun, dong… Mami kenapa sih… Kok mami berdarah Mi… Mami…" suara Nikita makin lama makin parau. Nikitaku… Nikitaku menangis? Tapi kenapa?
"Nikita! Nikita, ini mami, nak! Mami disini! Jangan nangis, sayang! Ayo bangun, jangan jongkok disitu, Nak…" panggilku. "Nikita…"
Tapi nikita tetap tidak beranjak dari jongkoknya. Dan, siapa yang dia tangisi? Aku berdiri menghampirinya, mencoba menggendongnya…
Astaga!!! Itu… ITU AKU???
Itu betul-betul aku, terbaring di lantai… darah di sekelilingku… pisau ditangan kananku… pisau???
Aku betul-betul tak ingat apa yang terjadi. Yang aku tau, tiba-tiba aku merasa sangat dingin.
Dingin sekali…
dedicated to all beloved men that I know very well
haruskah aku bertanya?
agar kutau jawabnya?
Tlah kuberi sgalanya
cinta yang tanpa akhir yang hanya tercipta untukmu
Mestinya semua ini jadi awal yang indah bagiku
(taken from : awal yang indah, terre)
kekasih
kau tak pernah mencintaiku ataupun dirinya
tiada cinta dihatimu kecuali kecintaan
kepada sebuah wajah yang kau lihat didalam cermin
(courtesy of http://altheana.blogspot.com)