Resistant To Change

Suatu malam mia dan si mamah ngobrol-ngobrol tentang busway 2 & 3, sambil mengenang
betapa busway 1 waktu sebelum muncul dihujat-hujat tapi ternyata
sekarang dicintai. Si mamah lantas cerita bahwa waktu pertama kali muncul
TV berwarna dan video (player), di masyarakat juga muncul polemik pro
& kontra yang menjadi bahan diskusi berhari-hari dan memenuhi
halaman-halaman surat kabar. Alasannya, kedua benda itu dianggap barang mewah yang belum pantas dimiliki oleh orang Indonesia saat itu. Hihihi… padahal kalo dipikir-pikir, lucu juga ya
muncul TV warna dan video player aja sampe dijadiin bahan diskusi, kaya
ngga ada yg lebih penting aja! Tapi mengingat waktu itu harga dollar
dan BBM hanya beberapa perak saja, dan terutama belum ada program
infotainment yang heboh, wajar juga sih kalo kehadiran TV warna
disambut segitu ramainya :D

Berlanjut pada kondisi di warnet. Selama ini warnet menggunakan billing manual, pakai excel. Kalo liat tabelnya panjaaaaaangggg ke kanan karena banyaknya variabel yang musti dicatat, seperti harga disket, print hitam, print warna, CD, burning, burning + cd, teh botol, dll dsb dst. Nah, Unduk yang pandai dan cerdas and not to mention that he is a high quality programmer (luv u, hun!) lantas membuat suatu program yang berbasis web untuk mempermudah pencatatan billing. Setelah berminggu-minggu beliau membuat program tersebut (maksudnya itu billing dibuat selama beberapa hari minggu gitu), akhirnya VOILA! itu billing jadi juga. Dan kehadiran billing itu tentu aja dimaksudkan untuk mempermudah pekerjaan para operator warnet, karena yang biasanya mereka harus mengetik "jam masuk", "menit masuk", "jam keluar", "menit keluar", kali ini mereka cukup klak-klik mouse aja karna billingnya dibikin kaya realtime gitu. Begitu klik, langsung tercatat sesuai waktu yg sekarang.

Tapi sayangnya operator ngerasa billing Unduk "susah" dan "merepotkan". Dan dia awalnya tetap  memilih memakai billing manual yang jelas-jelas ngga praktis dan baru mau klak-klik di billing yang jelas-jelas lebih simpel setelah mia pelototin. Untungnya si empunya program malah sangat memaklumi kondisi itu, sambil mengingatkan mia tentang "Resistant to Change".

Yup, frasa "Resistant To Change" ini mia dapat dari Unduk. Suatu hari Unduk pernah cerita, kalau mia ngga salah tangkap, bahwa salah satu faktor utama  penghambat kemajuan teknologi adalah sifat "Resistant To Change".

Apaan tuh "Resistant To Change"?

Kalo dilihat dari konteks kalimat sewaktu Unduk bercerita, kedengarannya "Resistant to Change", atau biar kerennya kita tulis R2C aja ya, adalah suatu kondisi, atau lebih tepatnya sifat yang cenderung menolak terhadap terjadinya perubahan. Pro status quo mode ON lah istilah politiknya. Nah, sifat resistensi terhadap perubahan ini tentunya bisa menghambat kemajuan teknologi, karena orang cenderung untuk merasa nyaman dengan sistem yang lama dan malas untuk belajar sesuatu yang baru. Akibatnya, suatu penemuan baru jadi sulit untuk bisa diperkenalkan dan dipakai secara luas gara-gara orang-orang malas untuk mencoba. Padahal sesuatu yang baru bisa jadi suatu perbaikan atas apa yang sudah ada, dan sangat mungkin bermaksud mempermudah hal yang sebelumnya dianggap sulit. Misalnya mobil/motor ‘matic’ diciptakan untuk mempermudah pengoperasian kendaraan dibanding motor/mobil dengan sistem gigi yang cenderung ribet dan membutuhkan konsentrasi tinggi dan koordinasi tangan dan kaki. Atau contoh dekatnya, ya si operator warnet tadi.

Trus contoh lain, misalnya pengguna Windows yang ogah belajar Linux.  *mas iwin must give me credit for this*

Tapi sifat resisten terhadap perubahan ternyata ngga cuma terjadi di dunia teknologi aja. Resistensi ini biasanya didasari pada ketakutan menghadapi perubahan itu sendiri. Di dunia ini, selain ada orang-orang nekat, ada juga tipikal orang yang ’safe player’, menyukai kondisi yang statis, yang walaupun mungkin kurang ‘menguntungkan’, tapi minimal dia tau apa yang akan terjadi besok, lusa, besok lusa, dan seterusnya. Nah, menurut mia pribadi, tipikal orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang memiliki sifat R2C yang tinggi.

Misalnya, temen-temen kerja di proyek Pemerintah dulu itu. Tiap kali chat mereka selalu ngeluh, ngeluh dan ribut kepingin keluar. Dan karena semuanya berjiwa pegawai negeri sejati (dan secara luas, job seeker sejati), maka setiap informasi penerimaan CPNS di departemen manapun atau lowongan di perusahaan manapun selalu mia email ke mereka. Kadang-kadang sampe mia sms segala supaya mereka baca emailnya. Tapi sampai hari ini mereka tetap aja bertahan disana. Udah hampir 1 tahun mia keluar dari proyek itu dan selalu mendengar keluhan yang sama. Sampe-sampe mia ngga abis pikir, kalo kondisinya memang ngga bagus, kenapa harus bertahan sih? Tapi ya itu tadi, the R2C mode is ON!

Dan R2C ternyata juga terjadi di ‘dunia lain‘. Yup, itu tuh… di dunia "hati". Beberapa sahabat yang memiliki ke-enggan-an yang sangat tinggi untuk meninggalkan orang-orang yang tidak pantas untuk diperjuangkan… Phew! Life must be very very heavy for them, indeed!

Yah… intinya, pelajaran yang bisa kita tarik hari ini adalah :

Sebisa mungkin jangan pernah duduk di bangku deretan belakang tepat di sebelah pintu bis kota deh, apalagi kalo bis itu masuk jalur tol! Suer, JANGAN!!!

Luv ya all! *smooch*

2 Responses to “Resistant To Change”

  1. iWin Says:

    Mia,
    Gw udah berapa kali baca, tapi sampai sekarang masih bingung, maksudnya paragraph terakhir apa yah :-/

    Anyway: 100 Credit for Reluctan to Change :) eh..Resistan to Change :))

  2. Auliah Says:

    Maksud iwin yang “jalan tol” ? Kalau benar .. gini Iwin, coba Iwin buka jendela mobil full/besar-besar dan jalannya di jalan tol or ngebut, bagaimana rasanya angin.. kencang kan ? nyaman tidak ? tidak kan ?

    Terus kalau kecelakaan di jalan tol, sebenarnya yang paling dekat dengan pintu itu menguntungkan karena cepat meloloskan diri dengan catatan badan luka tapi kalau tidak bisa selamat hancur man..

    gitu ga mia?

Leave a Reply