Hohoho… Maafkan daku karena judul di atas terlalu hiperbolis dan "berkesan" melebih-lebihkan… Hihihi… Padahal sumpeh daku cuma mau menceritakan pengalaman yang menegangkan selama tiga hari terakhir di kehidupan gue yang untungnya diakhiri dengan suatu kebahagiaan dan kesuksesan besar, ditandai dengan senyum sumringah dari semalam sampai pagi ini.
Pengalaman yang menegangkan itu adalah… beberapa mungkin udah tau ya… yaitu…
A ROAD TO PATRA TOWER, suatu perjalanan pencarian jatidiri mia akan busana yang cucok dipake kondangan kawinan bos-nya Unduk
(Hehehe… cara penulisannya mirip2 buku self-help yang pathetic itu ga seeehhh???)
Tau kan, how I felt so intimidated with this KONDANGAN thing… Dress, shoes, bag, makeup, and so on… Nah, inilah cerita lengkapnya.
Diawali dengan kejadian di hari Kamis, 24 Nopember 2005…
Ijin bolos kagak jaga warnet dengan alasan ‘ada keperluan pribadi’… well, it WAS keperluan pribadi, ya ga seeehhh?? Gue pun berangkat dengan semangat empat lima dan gagah gempita menuju ITC Kuningan. Dengan berbekal pengetahuan umum dan pengalaman bahwa di ITC tersebut banyak butik2 yang murah… hmmm, let us figure out what murah means… di bawah 200ribu definitely, tapi ngga norak, apalagi pasaran… murah, tapi ngga murahan, kalo kata Deddy Mizwar mah. Dan emang karena mereka butik, jadi sangat mungkin barang-barang yg diproduksi cuma satu ato dua item dan ngga sama dengan toko yg laennya. Jam 2 siang sampe jam setengah 4 muter2in Mal Ambasador dan ITC kuningan yang 3 lantai itu (sebenernya siy 5 lantai, tapi lantai bawah karfur, lantai atas konter hape, tidak masuk dalam daftar pencarian), gue berhasil mendapatkan beberapa baju dan gaun yang masuk kategori murah tersebut. Well, biasa cewe… tiap nemu yang oke dikit, pasti langsung semangat mencoba! Temuan pertama, blus warna salem lengan pendek dengan bahan stretch lace dan di bagian dadanya berhias sulaman2 bunga2 cantik, dan harganya cuma 80ribu rupiah sajah, menjadi sasaran empuk dalam coba mencoba. Sambil membayangkan padanan rok manis bergaya bohemian yang akan dipake dengan blus ini, gue pun nyoba. Ngga sampe semenit, gue sudah dirundung kuciwa. Apa daya, badan gue yang "definitely-offsize" ini bahkan ngga cukup besar untuk terlihat cantik dengan baju itu. Dengan senyum pait gue masih memupuk harapan dengan bertanya pada SPG-nya "ada size-nya ngga mbak?" dan sang SPG menjawab sambil menggeleng, "ini allsize…" sembari menambahkan dengan penuh simpati yang sarat akan kepura2an, "susah ya mbak, jadi orang kurus…" DAMN!
Berjalan, berjalan dan terus berjalan, sempet juga nemuin dress selutut yang bermotif ramai laksana batik dengan arah garis motif horisontal. Well, cocok banget kan buat menyamarkan tubuh gue yang keliwat kurus ini! Apalagi motifnya lucu, dan warnanya pun bagus. Keliatannya pun ngga gede, karena di kapster (boneka pajangan korban mutilasi, tanpa kaki, tangan dan kepala, kasiaaannn…) keliatannya ngepas, tapi ngga ketat. Singkat kata, bagus lah. Harganya pun oke. Maka gue pun bertekad untuk mencoba. Setelah dilepas dari kapsternya, baju itu gue bawa ke ruang ganti, gue coba, dan… saat itu gue tau, HARUSNYA GUE TAU, kalo gue bukan kapster!!! BETEEEEEEE!!!!!!!!!!!
Karena pegel, capek dan lapar, gue pun istirahat untuk ngemil salad en puding KFC di foodcourt sambil nungguin Unduk. Well, sejak sama dia, ngga pede rasanya beli baju sendiri. He’s like my costum designer, beside my pimp, hehehe. Seleranya bagus… terutama karena apa yg gue liat bagus buat dia juga bagus, dan apa yg dia liat bagus, kata gue juga bagus. Jadi berasa ada second opinion aja. Ngga lama, si mami sempet telpon2, gosip2, dan diakhiri dengan kata2 "kalo ngga nemu juga ke bintaro aja, mami masih punya baju2 yang muat deh sama mia…" hehehe, baiknyaaa….
Setelah unduk datang jam stengah enaman, kita hunting2 lagi. Toko2 yang tadi sudah didatangi dan dicoba2, kembali didatangi. Siapatau kali ini tiba2 dipajang baju2 keluaran baru yg ukuran kecil, hehehe… Sempet iri juga liat konter gaun2 anak2. Soalnya bajunya asli, lucu2, cuakep2, tapi yah… baju anak2. Sedangkan gue yang mustinya masuk kategori ‘dewasa’ malah ngga masuk itungan di jajaran baju2 dewasa. Sedih… Kalo ada dress yang lucu, unduk nyuruh gue nyoba, tapi gue udah menggeleng lemah. Gue udah apriori. I KNEW I WOULD NOT FIT THAT GODDAMNED SWEET DRESS!!! (Ssstt… walopun pas bareng2 unduk itu, gue sempet juga nyobain sekitar tiga sampe 5 baju lagi, tapi ya itu… ga cukup muat!) Sedih, putus asa dan hampir histeris (wuih, hiperbola!) akhirnya kita mutusin untuk makan dulu. Selesai makan, diputuskan untuk pulang karena udah jam 8-an. Dengan hati remuk redam gue ngikutin unduk turunin eskalator2, ke lantai bawah Mal Ambasador, ke arah pintu keluar, ke arah pulang. Lantai 4…. Lantai 3… Lantai 2… Lantai 1… Pint… Wait da minute!!! What the hell is that???
Di satu toko, ada kapster yg dipajang dengan dress yang lucu. Motif printing yang cerah, banyak warna birunya. It’s sooo me! Dan ada tangannya pula, ngga u-can-see. Kind of dress that u can bring to ur mama, hehehe. SPG dari dalam toko nyuruh kita masuk. Hayooo… masuk!!!
Tujuan utama, ya mendekati si kapster itu. Namun apa daya, tu baju yg terlihat cantik dari depan, ternyata tidak cantik dari belakang. Karena belakangnya BOLONG!!! Yaaa… seksi sih… tapi definitely not for me, uh uh. *sambil geleng2 kepala* Tapi, semangat yang sempat sirna dan kemudian muncul kembali setelah melihat si baju biru itu belum pudar. Maka gue hampiri gantungan baju yang memuat banyak sekali dress. Eh… yang ini lucu juga, walopun ga selucu si biru… Eh ini ada yg motifnya beda… Eh, yang item boleh juga… Dan gue pun mengangkut tiga baju sekaligus ke ruang ganti… And it’s like MAGIC! TIGA2NYA MUAT BOOOO!!!! Masalah berikutnya adalah tinggal pilih warna acak corak. Dan pilihan jatuh pada dress warna saga, dengan pelapis kain warna merah marun, dan bentuknya… ah gue ga bisa ngegambarin gimana, mungkin suatu saat kalo potonya udah ada, biar gue upload sajah. Sayangnya, baju ini tidak berlengan, and it means I cant show it to my mum, karena bisa2 I dipecat jadi anak, hehehe… jadi, di dalam kamar, di rumah, gue langsung berlatih, bagaimana caranya mengganti baju di dalam taksi tanpa harus membuat supirnya ‘ngacay’. Yup, i practiced to be a She-Houdini.
Jumat, 25 Nopember 2005…
Setelah mendapatkan dress yang tepat (baca : muat), hari ini gue musti mencari sandal padanannya. Yaaa… seperti halnya gue ga punya baju kondangan yang proper, gue juga ga punya sandal pesta yang juga proper. Dan karena gue sudah bertekad kalo gue tidak akan :
1. Mencari tas atau clutch bag atau sejenisnya yang matching dengan si gaun yg jelas2 musti dibeli dengan uang (kecuali kalo boleh dibeli pake daun, itu lain masalah!)
2. Membeli asesoris dalam bentuk apapun (anting, gelang, cincin dan kalung) yang juga matching, well sebenernya lebih karena gue ga suka pake aksesoris (my daily accesories will only be my engagement thus wedding ring!)
3. Dandan ke salon, melainkan belajar dandan sendiri (yang gue sudah lakukan tiap malam selama 3 malam terakhir), kecuali untuk rambut (tarif make-up ternyata hampir 3 kali tarif blow variasi!!! Bayangkan!!!)
Maka gue merasa sangat pantas untuk membeli sandal yang matching, dan tentunya cantik. Setelah pencarian yang juga panjang dan melelahkan, belum lagi penjaga penitipan Shoe City Depok yang bikin bete surete, dan setelah menyerah dan mengalah kalau ‘amat sangat jarang di jaman sekarang sendal yang berwarna marun’, akhirnya gue mendapatkan satu STILETTO (hehehe… stiletto… stiletto… one that I always dream about!) berwarna keemasan yang ngga ‘jomplang’ sama warna kaki gue (amien…), dihiasi dengan batu-batuan diamante… ah, surga dunia di depan mata deh! Bener2 gue kudu berterimakasih pada BUCCHERRI, yang sudah tidak lagi memproduksi oldfashioned shoes and sandals and has open its eyes to the latest fashion issues!!! Goooo Buch!!!
(Dan bahkan Unduk pun turut memuji…)
Sabtu, 26 Nopember 2005…
Ok, this is THE DAY!
Baju sudah, sepatu sudah, barang2 make-up sudah… Pinsil alis, blush on warna pink pudar, lipstik 2 batang (satu warna merah marun nyolong punya si teteh yg ketinggalan di rumah, satu warna coklat pink punya gue yang gue beli akhir taun 2003 dan ngga abis2 juga, heran!), eyeshadow "turunan" dari si mamah, tapi warnanya kok agak ngga matching ya… coklat ma kuning gading… panik… panik… maka siangnya dari warnet gue sempet2in nyari ke tetangga, HYPERMART-YANG-PADA -TIAP-RUPIAH-YANG-DIA-HASILKAN-ADA-KUTUKAN GUE-DIDALAMNYA itu (yg tau cerita mia vs kabel telpon kegaruk, pasti ngerti deh!). Ngga dapet juga!!! (Sampe gue bingung, yang gue cari tuh apaan sih sebenernya… soalnya selaen udah capek, gue akhirnya malah asik di konter hand-made accesories, dan nemuin anting-anting yang agak panjang (2cm lah) dari jalinan batu-batu berwarna coklat-merah mengkilat… yup, i broke my own vow, hehehe). Untungnya, gue juga membawa serta blush on warna merah tua yang salah beli (gue pikir ngga setua itu warnanya kalo dipipi, ternyata lumayan bikin gue kaya abis ditabokin…), dan setelah dicoba2, boleh juga buwat pengganti eye shadow. MISSION ACCOMPLISHED…? Belom…
Jam 5, abis mandi di warnet, dan keramas serta menggunakan conditioner banyak2 (biar efeknya kaya abis krimbath *ngarep*), gue dan unduk pun menuju mal kalibata untuk ‘nyalon’. Kenapa mal ini yang dipilih? Karena selain dekat dengan lokasi (ngirit ongkos taksi-red), banyak salon (ada 5-6 salon gitu deh), juga ada HERO Supermarket yang buka sampe jam 10, jadi bisa nitipin baju ganti plus sendal butut plus lain2 disitu selama kita kondangan, hehehe…
Ternyata gue agak lupa, kalo hari itu hari Sabtu, hari Salon Nasional. Hampir semua salon penuh. Padahal gue cuma pengen blow dan pedicure (pake stiletto gitu looohhh, hehehe). Akhirnya ada satu salon yg bisa blow saat itu juga, tapi pedicure tetep penuh. Unduk nyaranin utk blow aja (karena mungkin menurut doi kepala jelas2 lebih terlihat daripada kaki!) dan gue pun menyerah. Yang blow namanya Irvan. Doi bukan tergolong ‘mutant’, malah gagah dan keren kalo kata gue. Blownya juga bagus. Gue minta supaya rambut gue yg ikal ini dibikin ikal lagi bawahnya (ngga tega bilang keriting) dan dijepit sebagian ke belakang. Sama irvan, rambut gue dibikin bergulung2 kaya rambutnya Shirley Temple, atau tokoh Nancy di film House on The Prairie. Trus ditarik sana tarik sini jepit sana jepit sini, semprot sana, semprot sini, voila! Jadi! Dan efeknya bener2 dramatis banget! Asli, gue suka! Moreover becoz it cost me only 25thousands rups! (belum fee irvannya tentu… tapi tante ini kalau happy pasti kasih fee-nya asoy, huehehehe…)
Setelah dandan kilat 10menit di kamar mandi mall (sambil membuat pengunjung kamar mandi terheran2… putri dari kahyangan sebelah manakah yang sudi turun ke dunia, tepatnya ke wc mal yang agak bau ini? huehehe…), gue dan unduk yang sebelumnya terperangah melihat kecantikan gue (cuih!!!) tergopoh2 menuju Hero Supermarket buwat nitipin segala perabotan lenong. Nah, baru tuh, mission accomplished!
Well… tapi dunia nampaknya tidak berpihak pada kami, atau pada si empunya kawinan. Selain macet beraaattt dan hujan rintik2 yang memperparah kemacetan, ketahan sama pintu kereta kalibata yang melewatkan kereta 4 kali berturut2, dan para pulisi yang menutup jalan di mampang karena ada presiden liwat (eh, presiden ato bukan ya?), dan terakhir, memang iring2an para calon tamu kawinan yang membuat macet di ruas semanggi-mampang. After 40-bloody-minute-taxi-ride, nyampe juga di kawinan. Harap2 cemas masih kebagian makanan (udah stengah sembilan sih!), kita tergopoh2 menuju eskalator ke lantai 2. Ada secercah harapan membaca tulisan di penunjuk arah,
Wedding Ceremony
Sugito & Christ
19.00-23.00 WIB
yang secara tidak langsung memberi pengumuman "Makanan masih banyak, ahoyyy!!!" Dan bener juga, gue masih bisa menikmati potongan besar lasagna yang uenaaakkk…. trus sebangsanya lontong cap gomeh dan laksa masih bertaburan dimana2, walopun kambing guling dan sate udah ngilang. Prasmanan juga masih lengkap. Salut deh buat Bos Gito. Well-prepared! Kenyang, happy ketemu temen2nya unduk dan foto2 (nah yang ini gue ga terlalu banci poto, maklum di pesta orang dan gue ga kenal temen2nya unduk, jadi agak jaim) dan kenalan basabasi, jam sembilan pun gue sama unduk pulang… ke rumah? Tentu tidak!!! Kan gue kudu ke Hero Supermarket dulu ambil perabotan yg dititip.
Sampe mal kalibata, malnya sendiri udah tutup, tapi Heronya, thank God, belom. Bener2 my Hero deh! Unduk buru2 ambil perabotan. Gue sempet males kalo ke rumah naek taksi lagi (males ngeluarin ongkosnya, hehehe). Walhasil, setelah nemuin salah satu atm yang pintu kacanya ‘buram’ dan berhiaskan cat logo bank tsb tepat pada sepanjang bagian ‘vital’, gue pun lirik kanan-kiri dan ganti baju disana!!!! (unduk jadi satpam yg jagain pintu atm tentunya!). Dan keahlian gue berganti baju a la Houdini pun terlaksana dengan baik. Gue pun tersenyum, puas.
Phewww…. quite an adventure yaaa… Maap kalo panjang buanget. Lain kali kalo mau baca blog gue, jangan lupa sediain popcorn sama teh botol deh, biar ga bosen!
NANTIKAN PETUALANGAN MIA SELANJUTNYA YAAA…..