Pindah Rumah… Pindah Rumah…
December 29th, 2006 by taureauxSori Prens, sejak 26 Desember 2006, gue pindah rumah nih, ke http://www.miacantik.wordpress.com.
Hadirilah, banjirilah!!!
Sori Prens, sejak 26 Desember 2006, gue pindah rumah nih, ke http://www.miacantik.wordpress.com.
Hadirilah, banjirilah!!!
Ini kejadian aktual banget, soalnya baru terjadi setengah jam yang lalu.
Ceritanya saya, Unduk dan Mpiq makan siang jam 2-an tadi. Kita makan di warung chinese food (dibilang warung karena kecil, dibilang chinese food karena jelas-jelas yg jualan bukan orang Tegal!) langganan. Udah bisa masuk kategori langganan belom yah, karena saya udah sekitar 3 kali lah makan disitu. Dan saya seneng kesitu, soalnya selama 3 kali saya kesitu, selalu pesan tumis Genjer, tapi ngga pernah sama dapetnya. Yg pertama tumis genjernya berkuah tapi cawerang (bening/encer-miw), trus yang kedua kali, tumisnya tidak berkuah, nah yg ketiga, tumisnya berkuah, tapi warnanya coklat! Jadi seakan2 saya dapet menu baru terus, hehehe. Yang terpenting, makanannya enak, dan harganya matching sama kantong. Yah, toyib lah buat mulut, dan toyib buat kantong, walaupun kehalalannya belom terjamin, huehehehe…
Selesai makan, ceritanya Mpiq minta dianterin beli baju. ‘Buat bekel gaul ntar malem,’ katanya. Ya udah kita bertiga naek angkot ke Cihampelas. Pikiran saya, paling belinya ya baju-baju gaul, jadi angkot saya minta stop di depan Promenade, karena disitu ada distro clothing gitu. Belom masuk ke pintu distro, eh si Mpiq udah komen lagi, ‘Miw, gue mah mau beli kemeja…, yang resmi-resmi dewasa gituh. Ga bisa ke tempat ABG begini!’. Oalaaahhh, ye maap!!! Secara saya memang lupa, kalo umur saya dan Mpiq terpaut tiga ratus tujuh puluh taun!
Akhirnya kita berjalan ke arah Ciwalk. Udara dingiiinnn… banget, padahal masih jam setengah 3-an. Mungkin karena hujan rintik-rintik, dan menentang arah angin, jadi makin terasa dingin. Saya yang benci dingin mulai merasa tanda-tanda kelainan dari tubuh saya. Perut saya mulai membunyikan genderang perang, berontak berinteraksi dengan cuaca. Dan lama-lama, jadi mules gitu. Duh, gimana nih?
Baru lewat pertigaan (kira-kira depan ujung jalan Plesiran), saya langsung memberi isyarat ‘Timed Out!’. Perut saya kayanya bener-bener ngga bisa diajak kompromi. Waktu saya bilang ke Unduk pingin balik dulu ke warnet buat ke WC, eh tau-tau Unduk juga bilang, ‘kayanya Unduk juga mules deh…’ Halaahhh! Akhirnya saya dan Unduk sepakat pingin balik dulu. Kita pamitan sama Mpiq, rencananya Mpiq dibiarkan belanja aja dulu sepuasnya, supaya kita juga bisa ke WC sepuasnya, trus saya dan Unduk bakal balik lagi ke Ciwalk untuk jemput Mpiq.
Mpiq tanpa keberatan, setuju-setuju aja. Ya udah, saya dan Unduk langsung nyebrang jalan dan jalan ke arah becak-becak mangkal di depan Warung Laos. Eh, belom sempat saya nawar beca, tiba-tiba kedengeran suara teriak, "Miw!!!" Ternyata si Mpiq. Sambil lari-lari dia tanya, "Naek beca ke warnet berapa?". Saya pikir dia dengan baiknya tidak mau merepotkan saya, jadi saya balik tanya, "Heh, emang lu kenapa? Mau pulang sendiri nanti?". Mpiq nyengir, sambil bilang, "Ngga… kayanya gue mules juga!" Oalaaahhh…
Jadi, kalo kira-kira setengah jam yg lalu, ada yg liat 2 becak racing di Jl Sederhana, nah itu kemungkinan besar becak saya dan Mpiq, yang lagi balapan dulu-duluan sampe di warnet, supaya dapet wc yang paling bagus di lantai dasar.
Ayo Maaanggg…. Kebuuuuutttt!!!!!!!!!!
(In case lu ga ngerti, ini adalah) Epilog
Yang menang dari racing ‘the amazing toilet’ barusan dinyatakan tidak ada. Karena saya memilih utk pergi ke WC di lantai 1 daripada kelamaan musti bunuh-bunuhan dulu sama Mpiq utk rebutan WC (dan kemudian terjadi hal-hal yang saya harap ga akan terjadi pada saya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya). Sementara -ternyata- Mpiq, begitu sampe warnet, mulesnya ilang.
Huuu… Cangkeul Deeee!!!
Another new year is about to come. How’s y’all preparation so far, facing the new ‘beginning’ of your life? Have y’all made some plannings - good ones, offcourse - or you just play ‘just walk and see’? Hmmm… sounds familiar, rite, for those who don’t have passion in running their life. And I certainly hope that you’re not one of them
Well, if last year I was writing about "how to make a new-year resolution", at this upcoming new year, I will write about METAMORPHOSELF.
METAMORPHOSELF is a terminology that I create myself, actually
(should I put TM on it?) It refers to a condition, that we will change into something better. When we see how a itchy-disgusting catepillar turns into a beautiful butterfly, we sometimes mis-see them and assume them as two different creatures. For me, such metamorphosis is a very sophisticated change that, in real world, is very hard to adopt in human life
(unless those who are candidates of "Swan")
So, di METAMORPHOSELF, saya kepingin ngajak temen-temen semua untuk bersama-sama ber-metamorfosis menjadi sesuatu yang baru, yang lebih baik, tapi tetap jadi diri sendiri. Yang tadinya capetang, ngga perlu berubah jadi sok jaim biar dibilang dewasa. Yang tadinya jelek, ngga usah juga lah sibuk operasi pelastik yang malah bikin kita tidak terlihat seperti kita, sampai-sampai, jangankan guru SD jaman baheula, kita ngaca aja, kita kaget karena ngga ngeh kalo itu muka kita!
Karena itu, METAMORPHOSELF hanya bisa terjadi kalau kita udah berhasil ‘mengenal’ diri kita sendiri. Mengenal kekurangan-kekurangan dan kelebihan-kelebihan kita, untuk kemudian kita bisa "meramu"nya jadi sesuatu yang lebih baik. Istilah farmasinya mah, reformulasi. Nah, gimana caranya supaya kita bisa sukses melakukan METAMORPHOSELF?
Kira-kira, yang pertama, kita pilah-pilih yang mana kelebihan kita, dan yang mana kekurangan kita. Tulis aja di kertas biar lebih gampang. Jangan ragu untuk tanya orang tua, teman, sodara, tetangga atau bahkan Pak Erte di tempat kita, untuk bantu memilah-milah. Karena kan, konon, kita tidak bisa menilai diri kita sendiri secara baik.
Setelah dipilah-pilah, lakukan seleksi. Sifat buruk kita yang kira-kira udah kebangetan, misalnya suka malakin anak SMP di perempatan, atau sifat-sifat yang ngga penting-penting amat tapi menghabiskan energi, seperti hobi menghitung jumlah semut berbaris untuk menganalisa bahwa dalam satu kerajaan semut itu ada berapa SSK (satuan setingkat kompi), ya sebaiknya dibuang saja. Karena segala yang kita lakukan itu adalah cerminan dari diri kita sendiri. Kalo kita sering melakukan hal-hal yang jahat, ya maka orang akan melihat diri kita jahat. Kalo kita sering melakukan hal-hal baik, orang akan melihat diri kita orang yang baik. Dan kalo kita sering melakukan hal-hal yg ngga penting, yaaa sori-sori aja, artinya elo emang NGGA PENTING! hehehe…
Nah, ibarat sampah, ada yang bisa dibuang, ada juga yg bisa didaur ulang. Begitu juga sifat kita. Yaaa, bolehlah buruk-buruk dikit, tapi siapa tau bisa dimanfaatkan jadi sesuatu yang baik? Misalnya, hobi malak anak SMP tadi, alangkah baiknya jika disalurkan menjadi "hobi mencari sumbangan untuk korban bencana alam atau panti asuhan". Dengan begitu, hobimu tersalurkan, dan kamu dapet pahala. Atau hobi menghitung semut berbaris, bisa disalurkan menjadi "hobi menjadi akuntan negara yang menghitung aset-aset BUMN untuk melihat kebocoran dana disanasini". halah… jadi susah banget ya? Ya, pokoknya, selama bisa diarahkan menjadi sesuatu yang baik, kenapa ngga?
Nah, kalo yg buruk udah dicoret atau didaur ulang, kali ini kita lihat sifat-sifat baik. Yang sudah sangat baik, ya dijaga supaya tetap cemerlang. Yang baik, ya di-improve supaya jadi lebih baik. Yang standar, ya di-kursus-in aja, supaya keluar sertifikatnya, hehehe. Ya intinya, jangan kelewat puas kalau kamu sudah terkenal sebagai "si cantik yang rajin memberi santunan kepada pengemis di jalan raya". Alangkah indahnya jika kamu lebih dikenal sebagai "si cantik yang bertutur kata lembut dan rajin memberi santunan kepada pengemis di jalan raya kota Bandung, Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia".
Kembali ke teori METAMORPHOSELF, kayanya penjelasan di atas sudah cukup
yah, untuk menggambarkan teori tersebut. Jadi, sebetulnya kita tidak harus menjadi
orang lain jika kita mau berkembang jadi orang yang lebih baik, tidak musti ikut-ikutan orang kok.
Alangkah cantiknya kalau kita bisa tetep jadi diri kita sendiri, dalam
bentuk yang lebih baik.
Emang sulit jadi orang baik. Tapi lebih sulit lagi, jadi orang yang bener-bener mau niat tulus, untuk jadi lebih baik dari yang sebelumnya. Jadi, intinya kembali ke diri kita masing-masing. Cukup puas dengan kondisi sekarang? Jangan dulu lah… Di agama kita kan juga dibilang, orang yang beruntung adalah, orang yang hari ini lebih baik dari kemarin. Kalau hari ini sama dengan hari kemarin, konon itu adalah orang yang merugi. Dan yang lebih buruk dari kemarin, waaahhh, cilaka!
Nanti bukannya METAMORPHOSELF, tapi malah METAMORPHOSUCK!
Happy new year Guys!!!
Haaiii… Pagi yang indah, cerah, ditemani secangkir kopi anget dan semangkuk bubur ayam dingin (kayanya udah sisa2 tuh di si Mang Buburnya, sebel!), gue siap bercerita lagi tentang pengalaman di Bandung, kali ini yg mau gue share adalah tentang kerjaan. Sapatau aja ada yg bisa take advantages dari cerita gue ini, alhamdulillah…
Seperti yg telah gue ceritain di Jilid Satoe, tepat besoknya begitu gue nongol (senin 11/12/06), gue langsung berkutat dengan layout ruangan. Sambil kebetulan pas hari itu ada orang PLN yang lagi ditanyai2in perihal pemasangan listrik. Jadi, ceritanya, karena nanti gue akan menempati satu lantai gedung dengan minimal 150 komputer, maka perlistrikan tentunya menjadi hal penting, secara gedung ini listriknya masih minimalis, yaitu ada 3 account (meteran) dengan 2 meteran 2200 watt, dan satu 3500 watt. Wacana awalnya adalah gimana caranya naikin listrik utk sekian banyak komputer. Hal menarik yg gue pelajari adalah, ternyata untuk mensimulasikan kebutuhan listrik, gampang banget! Si orang PLN, yaitu Pak Darya, mengasumsikan 1 set komputer membutuhkan 1 ampere (220 volt). Jadi kalo ada 150 komputer, maka untuk komputer sendiri dibutuhin 150 ampere, a.k.a (150×220=) 33.000 watt. Trus ngitung AC, paling gampang-nya 1 PK dianggap setara dengan 1000 watt, sedangkan selama ini gue mengasumsikan 1 PK itu setara 900 watt (kalo liat kebutuhan listrik AC, kan suka macem-macem tuh, ada yg 1 PK berani nulis butuh listrik di bawah 900 watt). Kalo diasumsikan 1000watt, ya keuntungannya adalah lebih terjamin dari sisi ketersediaan listrik, alias ngga mungkin salah perhitungan. Hitung sana hitung sini, akhirnya kita ambil keputusan kalo kita musti pasang listrik setidaknya 38000 watt (komputer 150 biji, AC 2 PK 3 biji, dan ece-ece lainnya kaya kulkas, dll). Untuk menghemat biaya bulanan, disarankan untuk memecah account menjadi lebih dari satu. Lagipula, tempat yang mau dipakai adalah gedung dengan beberapa kios, jadi bisa "dianggap" masing-masing kios yg pasang account, gitu.
Urusan PLN sendiri sampe hari ini gue nge-blog masih belum beres-beres juga, soalnya sempet gonta ganti skenario. Tadinya, karena disini udah ada 3 account, dan yg 2 account bahkan kita pakai sendiri, maka gue berinisiatif untuk membuat skenario tambah daya utk 3 account yang sudah ada, dan 2 account lainnya pasang baru. Cara ini selain menghemat biaya awal, juga bisa menghemat waktu, karena proses untuk tambah daya tidak serumit pasang baru. Jadi, kalo toh baru ada 3 account @ 7700 watt, lumayan bisa untuk running hampir 100 komputer, yang artinya lagi, selama prosessing pasang baru, duit udah ada yg masuk, gitchuuu. Namun apa daya, ternyata pemilik tempat tidak mengijinkan, jadi skenarionya berubah lagi, jadi musti pasang 5 account baru dengan @ 7700 watt, padahal sekenario awal udah dapat angka perhitungannya, dan boz sudah setuju pisan. Sambil gue mau mengurus skenario baru, eh ternyata investor gue baru bilang kalo dia punya sodara orang PLN dll dll. Secara doi sebagai yg punya duit, gue dan boz kan ga mungkin maksain kehendak kita pribadi. Jadi, yah, sampe hari ini masih belom ada putusan, mau ama siapa, biayanya berapa, kapan beresnya. Padahal listrik adalah obyek RAB yg nilainya paling gede, musti dibayar dimuka, dan prosesnya bisa 3 mingguan lebih :((. Halah… capedeee!!!
Urusan yg cukup gede dan urgent adalah sekat gipsum. Jadi, nanti warnet gue akan berada di sayap kanan gedung, sayap kiri untuk game center, dan tengah-tengah rencananya untuk cafe. Dari sekian calon vendor yg sudah diwawancara, akhirnya kita dapet vendor yg ramah, ceria, dan yg terpenting adalah, memberikan harga yang paling rendah dan masuk budget, hehehe. Vendor gipsum ini, Pak Wahyu namanya, ternyata juga seorang aristek. Walhasil, tandeman gue minta tolong macem2, termasuk desain cafe, hehehe. Dan yang menyenangkan adalah, dari Pak Wahyu kita dapet disain meja komputer dan game yang ngga monoton, plus vendor pembuatnya. Jadi dari pak Wahyu dapet one stop shop, gypsum, meja komputer, kursi (ternyata vendor teman pak Wahyu bisa dapet harga murah langsung dari pabrik utk kursi, yippy!!!), dan sofa, dengan harga yg ekonomis tentunya.
Untuk urusan furnitur, gue dan boz sempat survey, pertama ke Mita Mantari, yaitu satu showroom furnitur terbesar di bandung yang ‘konon’ memberikan harga termurah. Tapi, keliatannya MM cuma mau sedia barang2 bagus, jadi semurah2nya MM, teteup aja ga masuk budget. Trus boz menggiring kita ke daerah Salendro. Disana ada sentra furnitur bekas. Refurbished lah istilahnya. Dari sana kita dapet meja kasir 2 biji, eks Danamon, dan kursi 30 biji. Dilalahnya, begitu kita DP, eh ternyata vendor teman pak Wahyu itu nawarin dengan tipe yg sama, barang baru, harganya di bawah harga barang bekas. Halaaahhh… Jadi, kemaren ((19/12/06), saat orang Salendro datang bawa barang, dan menanyakan order berikutnya (kita awalnya bilang butuh sekitar 120 kursi), gue terpaksa musti berkelit, dgn bilang kalo untuk kiriman komputer dari vendor kemungkinan tersendat karena kali ini kita kredit dalam jumlah besar, sehingga prosesnya akan lebih berbelit-belit, dan mungkin komputernya bakal turun dalam jumlah sedikit-sedikit, tidak sekaligus, jadi order kursi berikutnya gue harus tunggu kabar tentang vendor tsb. Eh, ini ngga bohong lho, cuma ngga jujur aja, soalnya gue jadiin alasan masalah dgn vendor komputer sebagai taktik "in case gue ga jadi order lagi ke elo", hehehe.
Untungnya untuk beberapa urusan sudah di handle boz gue, antara lain vendor komputer yg memang sudah langganannya, urusan Bandwidth utk warnet, dan juga -sementara ini- IIX . Tapi kayanya bos masih pingin gue survey utk yg IIX, cari harga terbaik, jadi itu masih peer gue.
Hari ini, rencana gue adalah : menerima desain autocad untuk meja komputer dan game dan sofa dari vendor furnitur, menunggu kabar orang "PLN sodara investor", survey karpet ke pasar baru, nunggu Telkom tarik kabel kesini untuk ke NOC baru, dan kemungkinan, sebisa mungkin, ambil keputusan tentang PLN.
Yah, kira-kira siy segono dulu. Next chapter, mudah2an gue bisa cerita tentang kondisi bisnis yg lagi diserahin ke gue. Don’t worry, it’ll be a long long story to go, hehehe…
Hai guys!
Sejak hari Minggu kemaren, (10 des 2006), gue udah jadi mukimin di bandung. Heboh juga sih, nekat bawa-bawa dua tas baju, satu kantong sepatu, dan satu tas khusus koleksi parfum2 (wajib eta mah!), dan juga bawa unduk, sembari ga jelas, daku mau ditidurin, eh… dikasih tempat tidur dimana. Sambil rada lieur kerna penyakit yg ga keren, yaitu ingusan, tapi yah sudahlah. Kerna gue sadar betul tipikal si mas bos yg jedar jedor.
Exactly as I thought, malem pertama ngga sempat cari tempat kos. Akhirnya gue & unduk ngungsi ke satu sactuary, hehehe, sekalian menikmati malam terakhir bersama, halaahhhh (untungnya ga pake sontrek lagu-nya Rhoma Irama, ‘malam ini malam terakhir bagi kita…’). Unduk dengan pasrah gue bajak supaya ga pulang dulu, sampe gue dapet tempat kos. Terpaksa kode "rencana mencret" diterapkan. "Mencret" adalah kode rahasia Unduk dan temen-temennya untuk ijin bolos sehari, hehehe. Malem itu, gue begadang buat nge-gambar lay out warnet & game center, persis kaya anak sekolah, beli penggaris, pensil, serutan, dan milimeter block biar bisa ngegambar pake skala. Unduk ngejaga gue dengan menyembunyikan remote tivi, karena sampe jam 10 malem mata gue terus2an aja natap tivi, sementara lembar milimeter block di hadapan gue masih bersih seperti baru (padahal emang baru!). Walhasil baru jam 11 malem, gue udah ngantuk, kerna kebiasaan gue kalo kerja ya nonton tipi dulu ampe pilemnya abis, trus baru kerja. Namun apa daya yg gue lagi tonton adalah HBO, jadi begitu satu pilem abis, yaaa… pilem yg laen langsung main, hehehe.
Senin subuh ampe jam 7-an, nerusin gambar lagi sambil dibantu unduk. Trus mandi dan bersiap-siap menuju markas si bos, di Antapani. Nunjukkin lay out game center ke si bos, sembari mengirim kode SOS ke Mpiq "May Day, May Day, Gambarin warnetnya dunk!!!", secara Mpiq bisa gambar pake komputer, dan taste interiornya dia bagus. Mpiq nongol jam 1-an, dan langsung bisa nyelesain layout dalam 2 jam. Abis itu baru kita makan, trus gue maksa minta dicariin kosan. Kurilang kuriling, untung nemu juga. Sesuai dengan harapan gue, ga jauh2 dari basecamp gue nanti, di Sederhana. Bos juga langsung mutusin disitu, biar ga cari2 lagi. Malemnya gue belanja2 kebutuhan standar, en nemenin unduk pulang pake travel. Baru deh kerasa sedih, sampe dengan noraknya gue hampir nangis pas unduk udah naik ke mobil, bhuahahaha! Untungnya agak lama mobilnya ga jalan2, jadi masih bisa saling mengelus kepala dan curi2 dikit… hehehe.
Malem pertama di kos, semakin berasa kalo sendirian. Biasanya walopun di rumah cuma bertiga sama si mamah dan babe, tapi ada aja yg gue kerjain. Ato gue bisa main komputer. Dan kalo kangen unduk gue telpon ato ngajak ketemuan. Sekarang udah ga bisa lagi. At least selama bulan desember. Kerna mas boz mau cabut ke bangkok hari minggu (tgl 17 des), tandem-an gue juga katanya mau pulang kampung dulu, dan mba bos dateng tgl 27 des. Alamat gue musti handle semuanya sendiri, se-engga-nya seminggu sampe tandeman gue balik. Padahal di bulan desember ini semuanya mulai kerja, secara si mas bos menjanjikan ke pak investor, januari bisa running.
Pusing!
Bandung selama 5 hari gue disini, bener2 suck! Tiap lewat tengah hari, tiba2 hujan gede yg bikin gue ga bisa keluar gedung buat cari makan. Baju-baju ngga kering, dan gue ogah ngikut sistem cuci kapitalisnya ibu kos gue. 50 ribu sebulan, detergen dari gue, dan cuma satu setel sehari. Mendingan gue cuci sendiri deh! Kalo yg berat-berat kaya Jins, gue laundry aja biar tau beres. Lumayan murah ternyata, 5000 doang utk laundry jins :D. Belom lagi airnya yang superdingin, ampe mas bos sering tanya ke gue, "gimana miw, udah berhasil mengumpulkan mental buat mandi?". Ooo, tenang bos, ikke kan sudah membekali diri dengan peralatan tempur, yaitu heater colok
Ya, ya, kosan gue lumayan kapitalis. Padahal yg punya orang kaya. Suami-istri dokter. Rumah inti-nya pun gede sekali. Mewah, roman style. Gue ambil kamar dgn kamar mandi dalam, 550ribu/bulan. Kamarnya lumayan lah, ga gede2 amat tapi udah ada spring bed single, lemari dan meja belajar. Jadi gue bisa bawa diri doang. Yang bikin kapitalis adalah kalo bawa alat2. Kulkas 35ribu, komputer 50rb, tivi 35rb, VCD/DVD player (my god!) 35ribu, setrikaan (catet!!!) 35ribu, dll dll dll. Walhasil gue musti selalu menyembunyikan heater colok dan setrikaan di dalem tas ransel di dalem lemari :D. Udah gitu, gue kena jam malam. Pernah gue pulang jam 9, tau2 udah digembok. Akhirnya gue usahain pulang jam setengah 9 (ngaruh ga?). Lagian disini, kalo jam 9, udah susah angkot :’(
Another thing yang jadi note buat gue adalah, ketidakpraktisan bandung kalo gue mau kemana2, ngangkot. Secara di Cemara-Sederhana ngga ada mini market semacam Indomaret, Alfa, ato Circle K. Jadi pilihan gue cuma 2, ke Cihampelas, atau Sukajadi (Parijs van Java). Dan 2-2nya rese. Berangkat gampang, pulang pusing. Kesimpulannya, gue jauh lebih suka hidup di Jakarta sebetulnya, walaupun kemana2 musti ngangkot, baik dari cuaca, jam hidup, suasana, dan fasilitas
(ssst, jangan2 sampe kedengeran mas bos ya!)
Andai disini ada Unduk, pasti semuanya bakal terasa lebih baik buat gue. God, hear my prayer! (and then pass it to my bos, ya… huehehehe!)
Iya, bener lagi! Papado lagi-lagi penuh!
Papado (Net) adalah nama satu warnet di bilangan Casablanca. Bukan… bukan saya mau menghianati warnet langganan saya di belakang kompleks kantor WTC itu, bukaann… cuma ngga ada salahnya saya mau coba warnet yg satu ini.
Pertama kali saya kesana Minggu malam kemarin (26/11/06), dan sore ini, waktu saya datangi, lagi-lagi saya disambut senyum manis sang OP sambil berkata, "Penuh…", yang kemudian dan yang selalu kejadian, saya musti berjalan sedikit agak jauh ke warnet langganan saya ini.
Se-istimewa apa sih, Papado, sampai saya merasa penting untuk menulisnya dalam blog? Fenomena yang menarik adalah, karena setiap kali saya ditolak Papado, dan mengungsi ke warnet langganan, ternyata warnet langganan saya… kosong
Paling terisi tiga dari 16 bangku (kecuali sore ini, kira2 50% lah karena tiap sore selalu ramai sama anak SMA). Walaupun belum bisa ditarik statistiknya (karena sampel data statistik minimal 3, kan?), tapi sudah bisa diasumsikan bahwa warnet Papado jauh lebih untung dibanding warnet langganan saya ini. Walaupun dari segi fasilitas komputer kelihatannya sama (LCD 17"), dan dari harga juga sama (kayanya… 5000/jam), tapi kalo dilihat dari keseluruhan aspek, saya bisa mengerti kenapa profil keuntungan kedua warnet ini bisa jauh berbeda.
1. Dari Lokasi
walaupun keduanya sama-sama berlokasi di daerah Sudirman, tapi Papado lebih diuntungkan dengan berada di pinggir jalan utama, sedangkan warnet langganan saya (yg tidak ada namanya ini) lokasinya di jalan kecil. Masing-masing punya keuntungan posisi sih, sebetulnya… karena warnet tak bernama ini langsung dekat pintu belakang kompleks perkantoran. Jadi ngga heran kalau pada jam2 tertentu banyak orang2 kantor yg main disini.
2. Dari Lingkungan
Nah ini dia yang lumayan menentukan jauhnya pendapatan :D. Warnet Papado kebetulan berada di deretan ruko, dengan fasilitas parkir seluas-luasnya ruko itu. Sedangkan warnet tak bernama ini, mepet buanget sama jalan. Paling banter bisa diparkiri motor, itupun musti serong, dan keliatannya ga bisa banyak2 karena bisa menghalangi pintu masuk.
Selain itu, di sisi parkiran Papado, berjejer tenda makanan, mulai dari mie instan, jagung bakar, wedang ronde, somay, soto betawi… halah buanyak lah sumpah! Nah ini dia penarik utamanya, kalo menurut saya. Soalnya tiap kali saya masuk Papado, pasti di depan OP lagi pada ngejogrok orang2 yang makan, sambil nunggu giliran.
3. Dari Penampakan… eh, Penampilan
Bisa dibilang, penampilan di luar sama2 bergengsi. Dua warnet ini dibangun atas modal besar, itu pasti! Tapi warnet Papado catchy banget karena dapat sponsor (kali!) dari XL, sehingga dinding luarnya digambar-gambar oleh XL pake warna oranye khas XL. Selain pastinya dapet duit dari XL, warna oranye dan tulisan-tulisannya juga catchy banget, ngga norak. Sedangkan warnet tak bernama lebih memberi kesan "warnet kantoran". Dinding depannya kaca semua, dan di sepanjang bagian tengah tertutupi stiker ‘embun’. Itu lho, yg bikin kaca terlihat kaya berembun! Dua-duanya bagus, dua-duanya segmented. Yang membedakan adalah tampilan dalam, alias interior.
Warnet tak bernama lebih fokus sama kecepatan koneksi, dan terutama karena ruangannya ‘kecil’ (5 x 5 atau 4 x 5 m2 lah kira-kira), jadi privasi bisa dibilang nihil. Sekat antar komputer pun berkesan ‘basa-basi’, karena layar bisa terintip dari segala penjuru, hehehe. User yang cuma butuh speed, pasti tidak bermasalah dengan hal ini. Sedangkan Papado, dengan memanfaatkan lantai paling bawah dari 2 ruko (bayangin! modalnya boooo!) yang memanjang, lebih memilih posisi ‘naik kereta api’, alias semua komputer menghadap satu arah. Sekatnya pun dibuat lebih nyaman, yah persis sekat yang menempel ke meja gitu deh, tapi cukup melindungi monitor dari lirikan orang-orang yang lewat, maupun yg duduk di belakangnya. Satu lagi kenyamanan yang ditawarkan Papado yang tidak dimiliki oleh warnet langganan saya.
Nah, tinggal faktor kecepatan koneksi yang saya belum bisa nilai. Cuma kalau beda-beda tipis, tetap masih terbilang wajar kenapa Papado lebih sukses dibanding warnet tak bernama langganan saya ini (walaupun warnet langganan saya ini pun juga sukses, buktinya sekarang lagi full!!!)
Jadi… siapa sih yang punya PAPADO ?!? Hayo ngacung!!!
Hari-hari terakhir di minggu kemarin adalah hari2 yg paling berkesan buat saya. Boleh dibilang, hari Jumat kemarin itu, adalah hari di mana saya punya alasan untuk senyum-senyum sendirian, bahkan walaupun tidak ada yg mengajak saya tersenyum.
Ceritanya, saya dan Unduk diundang ke bandung oleh teman satu gank. Saya pikir, undangan itu terutama ditujukan buat Unduk, karena kebetulan Unduk memang sedang dapat ‘order’ dari beliau. Ternyata, disana saya yang mendapat surprise. Well, sebetulnya bukan surprise-surprise banget sih, tapi saya tidak menyangka kalau saya mengalaminya saat kemarin itu. I got something that -actually- least-expected gitu deh.
Jadi begini, sudah cukup lama antara saya dan teman saya itu ada wacana, di mana saya diminta untuk bergabung dengannya di Bandung. Jujur, saya senang bukan kepalang, soalnya I’ll be learning from the best. Ini sungguhan lho. Saya menyimpan kagum pada sahabat saya ini. Bagaimana tidak, bisnisnya dalam kurang dari 2 tahun berkembang cukup pesat. Belum lagi ketika dia bercerita tentang peluang-peluang yang ditawarkan pihak lain padanya. Dan yang menjadi kesempurnaan atas kekaguman saya adalah, kenyataan bahwa dia pernah rugi 2 milyar dan habis-habisan, tetapi dia tidak menyerah dan mau kembali bangkit, untuk kemudian merintis bisnis kembali dari nol. Kalau mau ditarik statistik, banyak orang Indonesia yang menjadi pengusaha, dan banyak yang kemudian bangkrut total. Tapi berapa banyak pengusaha sejati yang tetap semangat dan mau kembali bangkit dari keterpurukannya, hayo? Jadi terbayang kan, betapa excited-nya saya, begitu tiba-tiba saya ‘ditembak’?
Meski begitu, bukan berarti kemudian saya tertawa terbahak-bahak setiap menitnya setelah keputusan tersebut. Malah, rasanya saya stress, deh. Soalnya saya masih tidak yakin dengan kemampuan saya sendiri. Bukannya apa-apa, kegagalan bisnis kemarin lumayan ‘menohok’ uluhati saya, walau belum membuat saya trauma. Ya ya, saya tahu kemarin bisnis pertama, saya belum berpengalaman. Ibarat kata, teman saya mas Irwin pernah berkata, "pada bisnis pemula, gagal itu biasa. Nah kalo sukses, baru luar biasa!"
Tapi, seperti halnya suatu kegagalan, pasti sempat tercetus di pikiran saya kata-kata "saya pikir saya bisa, ternyata…". Segala keyakinan dan semangat yang saya punya waktu saya memulai bisnis (dan waktu menjalaninya) seperti yang luntur bersama lenyapnya usaha saya. Ya ya, saya tahu, bagaimana pun faktor-faktor kegagalan itu sebetulnya sudah terprediksi oleh saya sendiri. Tapi yang namanya jatuh, hampir selalu ada rasa sakit, kan? Apalagi saya belum di’imunisasi’ sebelumnya.
Karena itu, waktu akhirnya teman saya itu benar-benar ‘melamar’ saya, saya sempat ragu juga. Bisakah saya? Maksudnya, pengalaman saya bisa dibilang hanya secuil. Dan di secuil itupun saya gagal. Saya merasa saya belum punya portofolio yang pantas. Apalagi kelihatannya tanggung jawab yang diberikan pada saya cukup besar.
Saya malah bilang sama teman saya itu, saya sempat menangis meraung-raung waktu pertama kali dia ajak saya bergabung beberapa bulan yg lalu. Saat itu saya pikir dia cuma mau merangkul saya sebagai teman, karena kasihan. Dan saya yang egois ini merasa harga diri saya terlalu tinggi untuk dikasihani. Alih-alih berterima kasih, saya malah menangis sejadi-jadinya, hahahaha. Tapi, kemarin teman saya cukup meyakinkan saya, bahwa dia mengajak saya, ya karena saya. Artinya mungkin memang ada nilai pertemanan, tetapi dia juga melihat kemampuan saya. Dia juga mengatakan, kegagalan saya kemarin adalah investasi saya terhadap diri saya sendiri. Kalau kata Unduk, it’s a price to pay to get my own bussiness-experience. Jadi, mungkin itulah imunisasi saya. Mungkin saya belum benar-benar kebal, tetapi jika next time saya jatuh, rasanya tidak terlalu sakit.
Saya banyak bertanya pada Unduk hari-hari terakhir ini, ‘kok bisa? kok bisa?’, termasuk bahwa saya belum punya portofolio yg bisa meyakinkan orang bahwa saya memang bisa. Tapi Unduk bilang, dia meyakini satu hal, bahwa ada sesuatu yg dia lihat - dan teman saya itu juga lihat - dari saya, yang sepertinya saya sendiri tidak melihatnya. Mungkin - ini pikiran saya - ada potensi saya yang saya sendiri tidak tahu sebesar apa, tapi kelihatannya mereka bisa mengukurnya. Mustinya sih, saya juga bisa melihatnya, dan mengukurnya.
Karena itu, ‘lamaran’ ini bisa berarti pujian, tapi juga ujian. Pujian dalam arti saya dinilai berdasarkan sesuatu yang masih abstrak betul, belum ada bukti hitam di atas putihnya. Dan ujian, karena saya harus bisa membuktikan, bahwa penilaian itu benar, atau bahkan mungkin saja saya ‘beyond expectation’, hehehe.
Jadi, mulai sekarang saya akan belajar menyingkirkan kalimat ’saya pikir saya bisa’ dalam kamus saya. Saya hanya akan berkata, "SAYA TAHU, SAYA BISA!".
Asal jangan tiba-tiba suatu saat saya berkata, "Saya pikir saya tahu…". Ihhh… amit-amit!!!!
Kira-kira, lebih dari seminggu yang lalu saya diminta seorang sahabat untuk menemaninya ke Bandung untuk satu urusan. Saya sangat menikmati perjalanan ke Bandung kali ini. Mungkin karena perjalanan ini dadakan dan tanpa persiapan. Bisa juga karena kami pergi-pulang naik Oddisey yang amat nyaman dan dapat membuat bumping2 di tol Cipularang - yang pada ‘mobil biasa’ bisa melempar pantat saya minimal sejengkal ke atas jok kursi mobil - praktis tidak terasa. Atau karena saya bertemu dengan seseorang, yang saat mendengarnya bicara, saya merasa seperti melihat diri saya sendiri sekitar enam sampai sepuluh tahun yang lalu. Dan pada saat sekarang di mana saya menyadari bahwa diri dan pola pikir saya saat itu terlalu naif, saya merasa ‘berkewajiban’ untuk mengingatkan dirinya tentang ‘masa depan’. Yah pokoknya begitu deh.
Saya dikenalkan dengan seorang laki-laki muda. Bukan berarti saya sudah tua lho, tapi maksudnya laki-laki ini lebih muda dari saya. Dia adalah adik pacar sahabat saya yang mengajak saya ke Bandung itu. Dan kebetulan, laki-laki ini satu almamater (beda jurusan) dengan saya, kira-kira empat angkatan di bawah saya. Walaupun dia telah lulus S1 hampir dua tahun yang lalu, tapi dia betah sekali ‘nongkrong’ di almamater kami, karena ternyata dia sedang melakukan suatu penelitian atas penemuan yang dia temukan sendiri… atau yah kira-kira seperti itulah.
Saat dia bicara - terutama setelah dia tahu kalau kami satu almamater - saya menangkap jelas satu ideologi antara dia, saya pada enam sampai sepuluh tahun yang lalu, dan juga ribuan orang yang saat ini masih berada di kampus itu, atau juga yang sudah lulus namun cara berpikirnya masih tidak ‘realistis’ (ini menurut saya!). Laki-laki ini almamater gue banget. Mulai dari obrolan ‘kampus’nya yang gemar menggunakan bahasa-bahasa tinggi yang saya sendiri suer tidak mengerti maksudnya apa, bahkan saat itu sepertinya ia merasa perlu bersombong-sombong diri tentang almamaternya - yang notabene almamater saya juga - hanya karena pada saat saya kuliah disana, saya belum mengalami apa yang dia dapatkan sekarang. Sesekali saya hanya menyahutinya dengan kata-kata basi yang ngga penting seperti aduh Say, gue ngga ngerti deh yang begitu2an, jaman gue kuliah dulu masih urdu sih! yang biasanya langsung disambut dengan ketawa ngakak yang lain yang juga hadir disana.
Saya memang sengaja membiarkannya ngecaprak dalam bahasa (dan juga pola berpikir) yang sangat dikenalinya. Enam tahun lebih dia terkungkung di kampus kami, dan sangat wajar kalau itu menjadi bahasa keduanya. Terlebih kaerna saya menyadari kalau saya - mungkin saja - dulu juga seperti itu. Dan mungkin karena dia merasa kami berbicara dalam bahasa yang sama, dialog-dialog semacam itu membuatnya merasa nyaman untuk terus berbicara (terutama) dengan saya, orang yang baru pertama kali ditemuinya. Karena kemudian dia berbicara kalau dia ‘dilamar’ negara lain untuk meneruskan penelitian yang dia lakukan di negara mereka. Which is extremely good, actually. Tapi saya malah menangkap adanya kekecewaan pada sang almamater, karena seakan-akan almamater kami membiarkan dirinya terbajak negara lain, dan tidak memikirkan kemungkinan bahwa penelitian ini bisa saja membawa nama baik bagi almamaternya (dan Indonesia, duh!). Kasarnya, dia dicuekin almamaternya sendiri.
Setelah saya merasa kalau dia cukup nyaman (dan saya juga, pfhiuuhh!!!), barulah saya ‘memperlihatkan tanduk-tanduk saya’. Hal pertama yang saya bahas waktu itu adalah adanya satu kesamaan ‘ideologi’ almamater saya, sejak awal saya menjejakkan kaki disana, sampai hari itu saya bertemu dengannya. Sedihnya, dengan berkembangnya jaman, ternyata ideologi itu tidak ikut berkembang. Malahan, saat ini ideologi tersebut jelas-jelas sudah tidak tepat keberadaan.
Saya katakan padanya (dan pada semua yang kebetulan mendengarkan), cuma satu ‘kelebihan’ yang saya lihat dari almamater kami. Arogansi. Cuma itu. Sejak awal kami masuk, kami disambut dengan spanduk bertuliskan "Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Seluruh Indonesia" dan juga jargon-jargon lain yang tak kalah melenakan. Bertahun-tahun kuliah, kami selalu dicekoki dengan arogansi-arogansi ke-almamater-an kami oleh para pengajar. Seakan-akan hal tersebut adalah ideologi yang harus dipegang teguh, dipercaya dan diejawantahkan dalam kehidupan kami ke selanjutnya.
Efek sampingnya adalah, para mahasiswa atau lulusan baru yang idealis (memegang teguh ideologinya) memiliki ekspekasi berlebihan terhadap almamater. Gue lulusan almamater ini, gue lebih pintar dari lu semua, maka gue harus digaji lebih tinggi dari yang lain, gue hanya pantas menempati posisi-posisi penting, gue harus jadi atasan, gue bisa mengubah dunia, dll dll. Orang ‘luar’ yang menangkap jelas pesan ini kemudian men-cap idealisme-idealisme ngga penting tadi menjadi satu idiom yang cukup terkenal, "Arogansi XXX (almamater saya)".
Saya merasa perlu memberikan adik pacar sahabat saya itu satu sudut pandang baru. Saya ‘melatih’nya untuk berpikir individual. Jangan salah, individualis bukan berarti tidak peduli dengan orang lain. Jangan pula menyalahartikan sebagai egosentris. Saya mengajaknya berpikir tentang diri sendiri. Hanya tentang diri sendiri. Bahwa dia-lah yang bersusah payah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi supaya bisa diterima di almamater kami. Bahwa dia-lah yang keringat, darah dan airmatanya terkuras supaya bisa menyelesaikan kuliah dengan nilai yang ‘baik’. Bahwa dia-lah yang harus menghadapi belasan dosen penguji saat sidang sarjana. Dan bahwa dia-lah yang menemukan apapun yang sedang dia teliti saat ini. Maka apresiasi dari negara lain yang sekarang ia dapatkan, memang ditujukan hanya untuk dirinya. Our goddamned almamater has nothing to do with this. Sekali lagi saya tekankan. ALMAMATER KAMI TIDAK ADA ANDILNYA SAMA SEKALI DENGAN HAL ITU.
Saya tidak menampik bahwa apa yang telah dia (dan juga saya) peroleh selama ini adalah prestasi, termasuk bisa menembus almamater kami, dan untuk itu kami boleh berbangga. Namun saya sangat tidak setuju jika setiap langkahnya selalu dibayang-bayangi, dan akhirnya dikendalikan, oleh imej ‘gajah duduk’ khas almamater saya itu. Fungsi suatu lembaga ilmu adalah memberi ilmu (saya tidak akan menyebutnya lembaga pendidikan karena menurut saya, almamater saya tidak mendidik!), dan itu telah dilakukan oleh almamater kami, memang. Tapi apakah ilmu itu kemudian diserap, dicerna, atau ditolak oleh para mahasiswanya, itu urusan masing-masing. Artinya, si mahasiswa-lah yang akan menentukan, apakah ia akan menjadi pintar, bodoh, cum laude, IPK di di bawah 2, lulus, DO, baik, buruk, dan semuanya, dan semuanya! Prestasi yang didapat oleh teman-teman saya yang ber-IPK sangat bagus, yang kemudian mendapat rejeki bekerja dengan gaji besar atau di tempat yang layak, adalah prestasi teman-teman saya PRIBADI dan bukan almamater saya. Selayaknya ketika para lulusan almamater saya melamar pekerjaan (dan melakukan serangkaian tes penerimaan karyawan), adalah dirinya dan kemampuan pribadi-nya lah yang dinilai, dan bukan selembar kertas dengan latar gambar ‘gajah duduk’ yang tertera besar-besar (yang bahkan jauh lebih besar dari tulisan predikat kelulusan kami).
Dan ini saya alami sendiri, yang notabene membuka mata saya untuk mampu melihat adanya langit di atas langit. Waktu pertama kali saya melamar pekerjaan, saya sengaja hanya melampirkan ijazah kampus kedua saya (saya meneruskan kuliah tingkat lanjutan di universitas ‘peringkat dua’ di mata almamater saya) dan menyimpan baik-baik ijazah almamater saya di rumah. Saat itu alasan saya adalah malu dengan IPK saya yang dibawah batas normal lulusan almamater saya itu. Saat wawancara, saya dibombardir dengan pertanyaan-pertanyaan yang hanya berhubungan dengan bidang ilmu saya dan sama sekali tidak ada pertanyaan tentang IPK saya berapa, berapa lama waktu yang saya habiskan untuk kuliah, dan tetek bengek semacamnya. Setelah saya masuk dan bekerja, teman-teman sejawat dan atasan saya baru tahu kalau saya dari almamater ‘itu’. Tapi toh hal itu sudah tidak penting lagi. Lagipula disana saya bertemu dengan banyak lulusan almamater lain (negeri dan swasta) yang ternyata kemampuannya di atas saya. Sejak itu, jika ada yang bertanya saya dulu kuliah dimana, saya hanya menjawab, "Bandung." dan membiarkan si penanya menebak-nebak sendiri tempatnya. Yang lucu bahkan pernah seorang teman ‘nongkrong’ meminta saya menggantikan posisinya sebagai customer service di sebuah bank swasta, karena ia mengira saya lulusan sekolah tinggi manajemen atau semacamnya. J
Saya jadi makin meyakini bahwa almamater saya memang sama sekali tidak memberikan jaminan bahwa kami memang benar putra-putri terbaik di negeri ini, karena kenyataannya saya banyak menemukan putra-putri yang lebih baik dari yang katanya terbaik (yaitu saya, hehehe) di almamater-almamater lain. Dan saya tidak yakin ini disadari oleh almamater saya dan juga terutama para mahasiswa yang masih ada di sana.
Saya bahkan juga tidak yakin apakah setelah dikeluarkannya hasil peringkat universitas-universitas terbaik di dunia - bahwa almamater saya menduduki peringkat yang lebih rendah dari ‘universitas peringkat dua’ - mampu mengubah ideologi almamater saya menjadi sedikit lebih realistis. Sama tidak yakinnya dengan apakah scrubbing dengan ekstrak green tea yang saya lakukan tiap minggu dapat membuat kulit saya kinclong seperti bintang iklan. Namun toh saya tetap melakukannya J
*) untuk yang masih hobi menggunakan almamater sebagai senjata, wake up dude, dan baca Republika Selasa Kamis, 9 November 2006, halaman 5, berjudul “UI, ITB, UGM dan Undip Diakui Internasional”.
Duh duh duh… serem banget ga sih! Ternyata untuk jadi "ibu pintar" seperti jargon iklan HIT di tipi-tipi, kita kudu rela "ter-racuni" Diklorvos yang menjadi bahan aktif obat nyamuk tersebut. Dan mohon dicermati kalau dirumah masih ada obat nyamuk jenis ini, bahwa pada label bahan aktif mustinya tertulis Propoksur 8.90 g/l dan Diklorvos 8.05 g/l, tapi label tersebut ditutupi dengan label tempel bertuliskan Bahan aktif: sipermetrin 2.04 g/l dan d-aletrin 7.29 g/l. Alasannya isinya sih sudah baru, tapi kemasannya masih pake yg lama. Hmmm… setau gue yg kaya begono tetep ga boleh lolos (kalo obat mah begono sih…) Yah itu mungkin kenapa DepTan melakukan sidak lagi dan kali ini bener2 nyuruh perusahaan tersebut menghentikan produksinya sampai benar-benar berubah formulanya. Berita lengkapnya bisa dilihat disini.
Oh ya, Diklorvos tersebut digunakan untuk HIT jenis 2,1A (jenis aerosol) dan 17L (jenis cair). Gue ga tau apakah yg dimaksud dengan 2,1A dan 17L itu kode produksi atau kode produk. Tapi yang pasti, sebaiknya sementara jangan pake anti nyamuk merek ini dulu deh! Dan yang masih ada di rumah, dibuang aja, jangan dipake lagi. Karena pestisida tersebut bisa meracuni syaraf dan sistem pernapasan kita! Duh serem buanget kaaannn!!!
Ibu yang tau, pasti ngga mau pake HIT !!!
Mengutip kata-kata Karl Marx, gue juga bisa mengatakan bahwa Cimol adalah Candu! Betul-betul berbahaya! Menggiurkan, melenakan, namun juga mematikan!
Betapa ngga! Cimol yang kemarin gue ceritain… yang rencananya mau gue kasih unduk… malah memberikan penyiksaan pada gue yg tiada akhir!
Ceritanya… unduk kan ga tahan tuh sama pedeusnya, jadi gue yg makan, yaaahhh totally hari itu gue makan 2 porsi cimol. Trus trus, malamnya gue mules-mules, dan besok paginya… DHUENGGG!!! Perut gue keram, dan gue ga bisa ubah posisi tidur sama sekali! Setiap gue gerak, langsung keram dan ada rasa nyeri nekan ulu hati. Sakiiiittt banget! Jadi badan gue cuma bisa melingker kaya kucing tidur (cat curl).
Untung nyokap sigap membuatkan air kunyit+madu buat ngatasin asam lambungnya, jadi sore2 gitu gue udah bisa bangun, duduk sebentar di ruang tamu, dan ga sampe 5 menit kembali tergopoh2 masuk kamar sambil pegang perut. Nyebelin!
But still, hari ini gue di depok masih lirak lirik aja ke gerobak cimol. Abis enak beneran siiihhh… gimana dong?
Oleh karena itu, instruksi nyokap yang tegas melarang gue beli cimol lagi, dan demi kebulatan tekad gue utk bebas dari maag akut, maka gue mengeluarkan fatwa mutakhir 2006 :
Cimol adalah Candu!
Waspadalah… Waspadalah!!!